Friday, 25 May 2018

(Belajar) Tentang Konsumsi Barang

Beberapa hari ini I came across beberapa profil dan posting di dunia maya yang menulis tentang ethical buying alias hm konsumsi barang yang etis? eh, ethical apa yah padanan katanya dalam bahasa Indonesia? tapi kira-kira paham kan ya, maksud aku... ya, paham yaaa. 
Untuk mempermudah me-recall ingatan, aku akan mengelist satu persatu item yang aku temukan dalam perjalanan berinternetku beberapa hari ini:
  1. Menstrual Cup
  2. Reusable Straw
  3. Ethical Fashion
  4. Plastic Consumption 
Apakah kesamaan dari mereka semua? Yak betul, kata kuncinya adalah mengenai eco-friendly, ramah lingkungan, atau green living. Intinya adalah pengurangan konsumsi barang-barang yang dapat memberi dampak buruk bagi lingkungan maupun manusia lain.
Nah, masalahnya adalah, dari 4 faktor diatas ini ternyata aku masih banyak dosanya. Jadi 2 hal yang disebut diatas (Menstrual Cup& Reusable Straw), aku belum pakai. Terus.. 2 hal selanjutnya (Ethical fashion dan less plastic consumption), aku masih sering bocor.... Huff. Coba nih aku akan mengelist dosa-dosaku, mumpung Ramadhan juga sekalian refleksi diri gitu #iyainaja

1. Menstrual Cup vs Pad (Pembalut) vs Tampon 
Err.. sebenernya bagian tampon nggak usah ditulis juga ya, karena kan aku nggak pake gitu. Tapi, intinya adalah, bagaiamana kita bisa menghemat konsumsi plastik dan barang-barang sekali pakai dengan menggunakan menstrual cup. Ada yang belum tahu bentuk menstrual cup?
dapet gambarnya dari Pinterest
Nah, kelebihan dari menstrual cup ini adalah penggunaannya yang bisa dipakai hingga katanyaaa 10 tahun. Wagilasih. Lama bener. Tapi sis, kalaupun sebenernya bisa sampe 10 tahun, kok rasa-rasanya geli-geli gimana gitu ya kalo nggak beli baru selama paling enggak 2 tahun sekali gitu (?) karena meskipun sistem pakainya itu cuci-sterilkan-keringkan-pakai, tapi yaaaaa gitu deh ((wahai teman-teman risih, kalian paham kan maksudkuu?))
Karena kemampuan long-lastingnya inilah yang menjadikan dia sebagai produk yang sangat eco-friendly karena mampu mengurangi sampah produk menstruasi setiap bulannya. Kalau dipikir-pikir, betul sihhh, tapi mohon maap sampai detik ini rasanya masih ngilu bayangin makenya. Jadi, aku masih berpikir berjuta juta juta kali untuk menggunakan produk ini despite kelebihannya yang ramah terhadap lingkungan dan katanya nyaman (mohon maap bagian ini aku nulisnya aja sambil ngilu).

2. Reusable Straw vs Single-use Plastic Straw 

Stainless Steel Reusable Straws
gambarnya dapat dari sini
Sebagai anak jajan pecinta bubble tea, nggak keitung banget sih sebenernya sudah berapa banyak sampah sedotan plastik yang kubuang dan mungkin berakhir di lautan luas, dimakan ikan ataupun penyu :( Ditambah, dari dulu emang hobinya minum apa-apa pake sedotan, soalnya seru ada sensasi gigit-gigitnya wkwk (hobi ngegigitin sedotan sampe ledes).
Nah, pada suatu hari yang cerah, tepatnya di Hari Bumi tahun ini, aku ngepost foto di Instagram tentang permasalahan ini, apakah ada solusi bagi pecinta bubble tea untuk tetap menyayangi bumi? Ternyata, jawabnya ada, teman-teman! Temanku, Arina aka Huntong, memberikan saran untuk pakai reusable straws. Sebenernya pernah lihat Mbak Ilmi update tentang ini sih, tapi lupa aja gitu kemarin, dan seingatku juga waktu itu sedotannya langsing, tidak memberikan support yang baik bagi pearl bubble untuk bisa diminum ((PENTING)). Nah, sebagai anak olshop sejati, pergilah aku ke Ebay dan menemukan bentuk sedotan 1 set yang kurang lebih seperti di atas. Jadi, ada berbagai macam ukurannya yang bubble tea-friendly, smoothie-friendly, atau bahkan float-friendly, seperti sedotan yang ada sendoknya itu. Keren, ya! Tapi belum beli, karena masih lumayan mahal *pelit*. Untuk sekarang, aku memilih untuk nggak jajan Coco dulu (tapi.......jajan Eskrim OhMatcha wkwk) untuk mengurangi konsumsi sedotan plastik (meskipun ini pengorbanan yang receh tapi ketahuilah menurutku ini cukup signifikan kok :"> ) Mungkin dalam minggu depan aku mau order pas ngerjain deadline wkwkwk (retail therapy, beli apapun meskipun bukan harus barang-barang luxury itu, sangat membantu loh--kalo stress tugas, jalan ke Coles beli minyak sama sabun aja udah seneng hahaha)
Teman-teman yang punya rezeki lebih mungkin bisa mempertimbangkan untuk switch ke sedotan unik ini, ya!

3. Ethical Fashion 
Ini kaos kaki lucu seperti yang aku beli di web Aliexpress
Nahhhhhhhh ini nihhh. Mungkin beberapa dari pembaca yang budiman sudah ada yang tahu ya, tentang industri fast fashion, jadi semacam merk-merk fashion yang setiap tahunnya cepat banget ganti stylenya, jadi ada kali 1 tahun mereka ngeluarin lebih dari 4 style (asumsinya untuk negara 4 musim, ya). Jadi, fast fashion ini bertumpu pada dua hal, yaitu perputaran style yang cepat dan biaya yang rendah. Masalahnya, dengan perputaran style yang begitu cepat memicu kita untuk mengkonsumsi lebih banyak, meninggalkan style yang lama, dan jatuhnya apa pemirsa? Kita jadi menumpuk baju-baju yang kemudian banyak di antaranya yang jadi terlupakan karena doesn't suit the trend anymore. Nyampah dong, ya. Kemudian, harga yang dibanderol dengan cukup murah (dibandingkan baju-baju desainer), harus dibayar dengan mahal oleh lingkungan dimana pabrik konveksi tersebut berada dan juga kesejahteraan pekerja yang berkontribusi dalam pembuatan produk tersebut. Kemarin sempet stumble across isu ini karena lagi ngobrolin mbak-mbak Instagram sama Vineta, dimana mbaknya mengangkat isu iniiii. Sebenernya udah pernah denger sih dulu, pas kelas EPI tentang korporasi kapitalis gitu-gitu, tapi kayak selewat lalu saja karena dulu konsumsi baju, sepatu, dan lainnya masih sangat terbatas dari uluran kasih Ibu hahaha. NAH, sekarang nih, dimana online shop udah semakin ganas dan udah ngatur duit sendiri, aku semakin merenungi betapa konsumsiku sudah mulai nggak sehat. Terlebih ketika aku menemukan sebuah website bernama Aliexpress. Ketahuilah teman-teman, 5 pasang kaos kaki lucu yang aku beli di Aliexpress itu harganya cuma 4-5 dolar kalau nggak salah. Alias 1 dolar sepasangnya. GIMANA NGGAK KALAP YHAA.... hiks. Terus ada kaos kaki Chibi Maruko Chan dan Psyduck yang juga lucu binggo, dan harganya cuma 2 dolar masing-masing (iyaaa hobinya emang koleksi kaos kaki wkwk) ditambaaah jengjeng FREE DELIVERY SIS!
Wagilasih. 2 dolar. Free delivery.
Sebagai anak yang suka tertarik dengan barang-barang lucu tidak berguna, itu merupakan cobaan yang sangat pelik. Tapi bayangin deh, kalau sepasang aja dijualnya cuma 1 dolar, free ongkir pula, kira-kira yang buat digaji berapa deh, sis? :") #menohokjantungku
Oleh karena itu, sekarang mau komitmen, apa yang sudah dibeli, harus dipakai dan dijaga supaya awet (jangan nambah-nambahin sampah!). Juga berjanji kepada diri sendiri untuk tidak lapar mata melihat barang-barang lucu yang tidak berguna. Meskipun belom bisa sampai ke tahap dimana akan menjahit baju-baju sendiri dan menggunakan serat alam, misalnya, tapi setidaknya dengan mengurangi konsumsi (dan lebih mikir ketika mau beli barang) kita bisa yaaa dikit-dikit lah menuju perbelanjaan fashion yang lebih ethical.

4. Plastic Consumption 


cover Natgeo terbaru dapat dari sini
Konsumsi plastik rasanya udah merupakan masalah yang super-super parah sih. Setiap lihat dokumenter tentang plastik-plastik yang ada di lautan ataupun di gunung (pernah lihat ada orang share foto kemasan minuman dari tahun 2000an awal yang masih ditemukan utuh, tahun 2018!) Memang sih mengurangi konsumsi untuk hal yang satu ini aku akuin susaaah banget, karena dia ada dimana-mana, seperti segitiga! (lah, ngelawak.. tapi yakin deh ga banyak yang paham). Mau jajan bakso, dibungkusnya plastik, habis fotokopi ditaruhnya di plastik, belanja juga pakai kresek, bungkus daging pakai plastik, daaan masih banyak lagi. Ini juga berkaitan sih sama penggunaan sedotan plastik yang di atas. Intinya, banyak sekali plastik-plastik single use alias sekali buang, sehingga dia menumpuk, padahal dia tidak bisa terurai atau lamaaaaaaaaaa sekali terurainya.
Tapi untuk sementara ini, aku masih menggunakan plastik sih, semisal ketika lupa bawa tas belanja ke supermarket, waktu ngepanasin makanan yang potensi muncrat dan malah mengotori atau bikin bau microwave yang dipakai bersama, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, aku sedang berusahaaa banget supaya bisa mengurangi kebiasaan ini. Misal, dengan memprediksikan kapan mau belanja supaya inget bawa tas belanja, atau menolak plastik semisal lagi bawa tas yang sekiranya cukup buat dijejelin barang belanjaan (meskipun kalau bahan makanan ya susah sih, kan jadi mbleber basah-basah gitu kan).

Ya susah sih memang untuk benar-bener menghindari konsumsi plastik, tapi bukan berarti terus kita harus menerima status quo itu saja dan njegideg tidak melakukan apa-apa. Pokoknya aku mah berangkat dari kutipan yang mengatakan bahwa Tuhan itu menghargai usaha umatNya, gitu kalau nggak salah. Meskipun belum bisa jadi kekasih bumi, ataupun sahabat bumi sejati, tapi setidaknya kita menyadari kesalahan kita dan berusaha, meskipun sedikiiiiiiiiit saja. Semoga Bumi bisa senyum dikitttt juga melihat usaha kita, dan siapa tahu kebiasaan positif yang kecil-kecil ini bisa diikuti oleh orang-orang di sekitar kita. 


Intinya aku masih banyaaaaak sekali PRnya untuk menjadi teman bumi, sahabat bumi, apalagi mau jadi kekasih bumi... masih jauuuuuuh banget *hiks*. Akan tetapi, aku akan terus berusaha melakukan PDKT dengan caraku, mengorbankan kenyamanan sedikit-sedikit, tapi semoga bisa konsisten. Semoga tulisan ini bisa terus menjadi pengingat buat aku supaya bisa konsisten dengan komitmen tipis-tipis yang sudah dibuat. Aaamiiin. 

No comments:

Post a Comment