Akhir-akhir ini sering mikir tentang betapa sekarang tuh kita sedang hidup di periode zaman yang mungkin di masa entah kapan, akan jadi periode yang sangat bersejarah (meskipun tidak selalu in a good way, ya). Hal ini terpatik ketika kemarin rame-rame nobar pernikahan royal-nya babang Harry dan Meghan Markle. Melati waktu itu nyeletuk, "Wah, selama kita hidup masa dewasa ini, kita udah dapet 2 kali royal wedding, William dan Harry, ntar Royal Wedding selanjutnya tuh masih lama banget kan ya.... nunggu George atau Charlotte bakal nikah gitu,"
Wah benar juga geng.
Sehingga suatu saat kelak, ketika mereka menikah, mungkin aku sudah berusia 50-an, dasteran, dan menggosok minyak angin ke punggung kaki, terus bisa bilang gitu ke anakku, "Yongalah... anake William iki wis gede, yo. Dulu Ibuk liat pas dia baru lahir lho,"-- berasa mamak-mamak tetangga yang sangat involved di kehidupan pribadi keluarga kerajaan ini.
Hal lain yang menurutku cukup historis adalah, terpilihnya berbagai kepala negara dan pemerintahan yang unik-unik dari berbagai negara. Donald Trump, dari pebisnis menjadi presiden Amerika, Kim Jong Un di Korea Utara (setelah meninggalnya Kim Jong Il), Macron sebagai PM termuda Prancis, Trudeau yang ganteng di Canada, Park Geun Hye yang skandal dan diturunkan, diganti oleh Moon Jae In di Korsel, dan yang paling epic sih di Malaysia... PM Mahathir Mohammad yang menjatuhkan "murid"nya sendiri, Najib Razak, di Barisan Nasional dan melangkah bersama partainya Anwar Ibrahim (yang dulu dia penjarakan). Mahathir juga merupakan PM yang tertua loh, umurnya saat ini 93 tahun. Luar biasak!
Belum cukup itu, masa-masa dewasa ini (dimana aku sudah bisa mulai mencerna informasi dan analisis sikit-sikit dari kacamata ilmu sos-pol), banyak banget kejadian-kejadian yang menarik dan historical, meskipun tidak semuanya menyenangkan. Mulai dari Brexit yang wow-kok-bisa-ya-ternyata, pertemuan bersejarah Kim-Moon di Korsel (dan Moon yang defector akhirnya step up di tanah Korut pula), kegagalan pertemuan Kim-Trump (dengan surat cinta Trump yang radak drama), adanya demo angka cantik berjilid-jilid di Indonesia, aksi-aksi teror yang semakin marak (dan berkembang pula pola serta strateginya), pokoknya tahun-tahun ini rasanya jurnalis tidak pernah kekurangan topik deh.
Lagi-lagi, ketika kelak aku menjadi mak-mak dan anakku belajar sejarah, rasanya akan aneh banget ketika kejadian-kejadian saat itu dibahas untuk pelajaran anakku kelak (udah ngomongin anak aja, bu). Ya nggak sihhh, bayangin aja tiba-tiba ditanyain, "Buk, jadi di Laut Cina Selatan itu kenapa sih? One Belt One Road itu dulu awalnya gimana, sih? Dulu kenapa kok Kim sama Trump nggak jadi ketemu?" itu aku akan mengingat masa-masa seperti ini, dimana masih jadi mahasiswa politik yang hobinya makan Indomie dan Samyang (semoga di masa depan hobiku lebih fancy ya).
Maka dari itu, karena kita adalah bagian dari sejarah dan merekam sejarah itu sendiri sebagai sumber utama yang hidup pada zamannya, penting sih menurutku untuk aware dengan isu-isu yang terjadi di sekitar kita. Selain karena kita butuh tahu untuk kelangsungan hidup kita pada masa saat ini (ya biar nggak cupu-cupu amat pengetahuannya pas ngobrol sama orang baru gitu kan), tapi juga supaya di masa depan kelak kita bisa menjadi bagian dari narasi sejarah yang ada. Intinya, kita bisa merekam sejarah versi kita dan semoga apa yang kita rekam saat ini berdasarkan informasi-informasi yang benar dan terpercaya sehingga kita nggak menyesatkan anak cucu kelak.
No comments:
Post a Comment