Monday, 28 May 2018

Snippets of today: Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah

Hari ini mau ngepost kebersyukuran karena ngaji tadi berhasil tanpa screen time (makasih ya, Zaki! aku terharu!) --- perlu dicatat sebagai sebuah milestone keberhasilan. 

Terus pulangnya dapet kurma (yang bukan Medjool) dari Grandma karena minggu sebelumnya sempet ngobrol kalo beli kurma mahal dan manis banget (aka Medjool), terus dibeliin dong sama Grandma, karena kebetulan beliau sempet nemu kurma yang lebih kering dan kecil-kecil. Terharu kan. 

Hari ini juga sempet ketemu dedek nadia yang pulang dari daycare nangis-nangis, terus pas ditanya kenapa nangis, ternyata dia kepengen pake backpack sambil duduk di car-seater (yang jelas gabisalah), terus habis itu dibilangin, dipangku aja yah, kita jalan. Terus dianya nggak mau, akhirnya nangis lagi. Pas mobil udah jalan, tasnya udah ditaroh di kursi, dia nangis lagi minta tasnya dipangkuin ke dia (yang kemudian ditolak karena udah nggak bisa berhenti lagi). Dari mobil sampe masuk rumah dia nangis teriak-teriak gitu (bener-bener ya, ternyata jadi orangtua itu harus punya kapasitas sabar yang menuju unlimited). 

Sorenya sempet ketemu sama Dikmas dan Coco makan di Wilis Canteen (makan ketoprak dan dapat kolak gratis!) dan mendengarkan perjalanan research essay dan disertasi mereka yang berliku (lebih berliku punya Coco sih wkwk). Duh, semoga dilancarkan semua ya tugas-tugas akhir kami! Aaamiin. 

Btw btw ini nggak nyambung, tapi mau nambahin sebuah kutipan dari ceramah Abi Quraish Shihab yang tadi siang kutonton. Intinya, beliau bilang, kalau misalnya kita hitung-hitungan buat dapat surga, pasti banyaaak banget dari kita tuh yang neracanya defisit dan timpang, alias kayaknya nyium bau surganya itu bahkan nggak sampe. Nah, tapi kita nggak boleh berputus asa. Doa yang kita bisa panjatkan yaitu, "Ya Allah, aku memohon kepadaMu untuk diberikan surga, bukan dari amalan-amalanku... tapi aku bergantung kepada rahmatMu yang begitu luas,"
Aku terharu :")

Saturday, 26 May 2018

Jadi Bagian dari Sejarah

Akhir-akhir ini sering mikir tentang betapa sekarang tuh kita sedang hidup di periode zaman yang mungkin di masa entah kapan, akan jadi periode yang sangat bersejarah (meskipun tidak selalu in a good way, ya). Hal ini terpatik ketika kemarin rame-rame nobar pernikahan royal-nya babang Harry dan Meghan Markle. Melati waktu itu nyeletuk, "Wah, selama kita hidup masa dewasa ini, kita udah dapet 2 kali royal wedding, William dan Harry, ntar Royal Wedding selanjutnya tuh masih lama banget kan ya.... nunggu George atau Charlotte bakal nikah gitu,"

Wah benar juga geng.

Sehingga suatu saat kelak, ketika mereka menikah, mungkin aku sudah berusia 50-an, dasteran, dan menggosok minyak angin ke punggung kaki, terus bisa bilang gitu ke anakku, "Yongalah... anake William iki wis gede, yo. Dulu Ibuk liat pas dia baru lahir lho,"-- berasa mamak-mamak tetangga yang sangat involved di kehidupan pribadi keluarga kerajaan ini. 

Hal lain yang menurutku cukup historis adalah, terpilihnya berbagai kepala negara dan pemerintahan yang unik-unik dari berbagai negara. Donald Trump, dari pebisnis menjadi presiden Amerika, Kim Jong Un di Korea Utara (setelah meninggalnya Kim Jong Il), Macron sebagai PM termuda Prancis, Trudeau yang ganteng di Canada, Park Geun Hye yang skandal dan diturunkan, diganti oleh Moon Jae In di Korsel, dan yang paling epic sih di Malaysia... PM Mahathir Mohammad yang menjatuhkan "murid"nya sendiri, Najib Razak, di Barisan Nasional dan melangkah bersama partainya Anwar Ibrahim (yang dulu dia penjarakan). Mahathir juga merupakan PM yang tertua loh, umurnya saat ini 93 tahun. Luar biasak! 

Belum cukup itu, masa-masa dewasa ini (dimana aku sudah bisa mulai mencerna informasi dan analisis sikit-sikit dari kacamata ilmu sos-pol), banyak banget kejadian-kejadian yang menarik dan historical, meskipun tidak semuanya menyenangkan. Mulai dari Brexit yang wow-kok-bisa-ya-ternyata, pertemuan bersejarah Kim-Moon di Korsel (dan Moon yang defector akhirnya step up di tanah Korut pula), kegagalan pertemuan Kim-Trump (dengan surat cinta Trump yang radak drama), adanya demo angka cantik berjilid-jilid di Indonesia, aksi-aksi teror yang semakin marak (dan berkembang pula pola serta strateginya), pokoknya tahun-tahun ini rasanya jurnalis tidak pernah kekurangan topik deh. 

Lagi-lagi, ketika kelak aku menjadi mak-mak dan anakku belajar sejarah, rasanya akan aneh banget ketika kejadian-kejadian saat itu dibahas untuk pelajaran anakku kelak (udah ngomongin anak aja, bu). Ya nggak sihhh, bayangin aja tiba-tiba ditanyain, "Buk, jadi di Laut Cina Selatan itu kenapa sih? One Belt One Road itu dulu awalnya gimana, sih? Dulu kenapa kok Kim sama Trump nggak jadi ketemu?" itu aku akan mengingat masa-masa seperti ini, dimana masih jadi mahasiswa politik yang hobinya makan Indomie dan Samyang (semoga di masa depan hobiku lebih fancy ya).

Maka dari itu, karena kita adalah bagian dari sejarah dan merekam sejarah itu sendiri sebagai sumber utama yang hidup pada zamannya, penting sih menurutku untuk aware dengan isu-isu yang terjadi di sekitar kita. Selain karena kita butuh tahu untuk kelangsungan hidup kita pada masa saat ini (ya biar nggak cupu-cupu amat pengetahuannya pas ngobrol sama orang baru gitu kan), tapi juga supaya di masa depan kelak kita bisa menjadi bagian dari narasi sejarah yang ada. Intinya, kita bisa merekam sejarah versi kita dan semoga apa yang kita rekam saat ini berdasarkan informasi-informasi yang benar dan terpercaya sehingga kita nggak menyesatkan anak cucu kelak. 


Friday, 25 May 2018

(Belajar) Tentang Konsumsi Barang

Beberapa hari ini I came across beberapa profil dan posting di dunia maya yang menulis tentang ethical buying alias hm konsumsi barang yang etis? eh, ethical apa yah padanan katanya dalam bahasa Indonesia? tapi kira-kira paham kan ya, maksud aku... ya, paham yaaa. 
Untuk mempermudah me-recall ingatan, aku akan mengelist satu persatu item yang aku temukan dalam perjalanan berinternetku beberapa hari ini:
  1. Menstrual Cup
  2. Reusable Straw
  3. Ethical Fashion
  4. Plastic Consumption 
Apakah kesamaan dari mereka semua? Yak betul, kata kuncinya adalah mengenai eco-friendly, ramah lingkungan, atau green living. Intinya adalah pengurangan konsumsi barang-barang yang dapat memberi dampak buruk bagi lingkungan maupun manusia lain.
Nah, masalahnya adalah, dari 4 faktor diatas ini ternyata aku masih banyak dosanya. Jadi 2 hal yang disebut diatas (Menstrual Cup& Reusable Straw), aku belum pakai. Terus.. 2 hal selanjutnya (Ethical fashion dan less plastic consumption), aku masih sering bocor.... Huff. Coba nih aku akan mengelist dosa-dosaku, mumpung Ramadhan juga sekalian refleksi diri gitu #iyainaja

1. Menstrual Cup vs Pad (Pembalut) vs Tampon 
Err.. sebenernya bagian tampon nggak usah ditulis juga ya, karena kan aku nggak pake gitu. Tapi, intinya adalah, bagaiamana kita bisa menghemat konsumsi plastik dan barang-barang sekali pakai dengan menggunakan menstrual cup. Ada yang belum tahu bentuk menstrual cup?
dapet gambarnya dari Pinterest
Nah, kelebihan dari menstrual cup ini adalah penggunaannya yang bisa dipakai hingga katanyaaa 10 tahun. Wagilasih. Lama bener. Tapi sis, kalaupun sebenernya bisa sampe 10 tahun, kok rasa-rasanya geli-geli gimana gitu ya kalo nggak beli baru selama paling enggak 2 tahun sekali gitu (?) karena meskipun sistem pakainya itu cuci-sterilkan-keringkan-pakai, tapi yaaaaa gitu deh ((wahai teman-teman risih, kalian paham kan maksudkuu?))
Karena kemampuan long-lastingnya inilah yang menjadikan dia sebagai produk yang sangat eco-friendly karena mampu mengurangi sampah produk menstruasi setiap bulannya. Kalau dipikir-pikir, betul sihhh, tapi mohon maap sampai detik ini rasanya masih ngilu bayangin makenya. Jadi, aku masih berpikir berjuta juta juta kali untuk menggunakan produk ini despite kelebihannya yang ramah terhadap lingkungan dan katanya nyaman (mohon maap bagian ini aku nulisnya aja sambil ngilu).

2. Reusable Straw vs Single-use Plastic Straw 

Stainless Steel Reusable Straws
gambarnya dapat dari sini
Sebagai anak jajan pecinta bubble tea, nggak keitung banget sih sebenernya sudah berapa banyak sampah sedotan plastik yang kubuang dan mungkin berakhir di lautan luas, dimakan ikan ataupun penyu :( Ditambah, dari dulu emang hobinya minum apa-apa pake sedotan, soalnya seru ada sensasi gigit-gigitnya wkwk (hobi ngegigitin sedotan sampe ledes).
Nah, pada suatu hari yang cerah, tepatnya di Hari Bumi tahun ini, aku ngepost foto di Instagram tentang permasalahan ini, apakah ada solusi bagi pecinta bubble tea untuk tetap menyayangi bumi? Ternyata, jawabnya ada, teman-teman! Temanku, Arina aka Huntong, memberikan saran untuk pakai reusable straws. Sebenernya pernah lihat Mbak Ilmi update tentang ini sih, tapi lupa aja gitu kemarin, dan seingatku juga waktu itu sedotannya langsing, tidak memberikan support yang baik bagi pearl bubble untuk bisa diminum ((PENTING)). Nah, sebagai anak olshop sejati, pergilah aku ke Ebay dan menemukan bentuk sedotan 1 set yang kurang lebih seperti di atas. Jadi, ada berbagai macam ukurannya yang bubble tea-friendly, smoothie-friendly, atau bahkan float-friendly, seperti sedotan yang ada sendoknya itu. Keren, ya! Tapi belum beli, karena masih lumayan mahal *pelit*. Untuk sekarang, aku memilih untuk nggak jajan Coco dulu (tapi.......jajan Eskrim OhMatcha wkwk) untuk mengurangi konsumsi sedotan plastik (meskipun ini pengorbanan yang receh tapi ketahuilah menurutku ini cukup signifikan kok :"> ) Mungkin dalam minggu depan aku mau order pas ngerjain deadline wkwkwk (retail therapy, beli apapun meskipun bukan harus barang-barang luxury itu, sangat membantu loh--kalo stress tugas, jalan ke Coles beli minyak sama sabun aja udah seneng hahaha)
Teman-teman yang punya rezeki lebih mungkin bisa mempertimbangkan untuk switch ke sedotan unik ini, ya!

3. Ethical Fashion 
Ini kaos kaki lucu seperti yang aku beli di web Aliexpress
Nahhhhhhhh ini nihhh. Mungkin beberapa dari pembaca yang budiman sudah ada yang tahu ya, tentang industri fast fashion, jadi semacam merk-merk fashion yang setiap tahunnya cepat banget ganti stylenya, jadi ada kali 1 tahun mereka ngeluarin lebih dari 4 style (asumsinya untuk negara 4 musim, ya). Jadi, fast fashion ini bertumpu pada dua hal, yaitu perputaran style yang cepat dan biaya yang rendah. Masalahnya, dengan perputaran style yang begitu cepat memicu kita untuk mengkonsumsi lebih banyak, meninggalkan style yang lama, dan jatuhnya apa pemirsa? Kita jadi menumpuk baju-baju yang kemudian banyak di antaranya yang jadi terlupakan karena doesn't suit the trend anymore. Nyampah dong, ya. Kemudian, harga yang dibanderol dengan cukup murah (dibandingkan baju-baju desainer), harus dibayar dengan mahal oleh lingkungan dimana pabrik konveksi tersebut berada dan juga kesejahteraan pekerja yang berkontribusi dalam pembuatan produk tersebut. Kemarin sempet stumble across isu ini karena lagi ngobrolin mbak-mbak Instagram sama Vineta, dimana mbaknya mengangkat isu iniiii. Sebenernya udah pernah denger sih dulu, pas kelas EPI tentang korporasi kapitalis gitu-gitu, tapi kayak selewat lalu saja karena dulu konsumsi baju, sepatu, dan lainnya masih sangat terbatas dari uluran kasih Ibu hahaha. NAH, sekarang nih, dimana online shop udah semakin ganas dan udah ngatur duit sendiri, aku semakin merenungi betapa konsumsiku sudah mulai nggak sehat. Terlebih ketika aku menemukan sebuah website bernama Aliexpress. Ketahuilah teman-teman, 5 pasang kaos kaki lucu yang aku beli di Aliexpress itu harganya cuma 4-5 dolar kalau nggak salah. Alias 1 dolar sepasangnya. GIMANA NGGAK KALAP YHAA.... hiks. Terus ada kaos kaki Chibi Maruko Chan dan Psyduck yang juga lucu binggo, dan harganya cuma 2 dolar masing-masing (iyaaa hobinya emang koleksi kaos kaki wkwk) ditambaaah jengjeng FREE DELIVERY SIS!
Wagilasih. 2 dolar. Free delivery.
Sebagai anak yang suka tertarik dengan barang-barang lucu tidak berguna, itu merupakan cobaan yang sangat pelik. Tapi bayangin deh, kalau sepasang aja dijualnya cuma 1 dolar, free ongkir pula, kira-kira yang buat digaji berapa deh, sis? :") #menohokjantungku
Oleh karena itu, sekarang mau komitmen, apa yang sudah dibeli, harus dipakai dan dijaga supaya awet (jangan nambah-nambahin sampah!). Juga berjanji kepada diri sendiri untuk tidak lapar mata melihat barang-barang lucu yang tidak berguna. Meskipun belom bisa sampai ke tahap dimana akan menjahit baju-baju sendiri dan menggunakan serat alam, misalnya, tapi setidaknya dengan mengurangi konsumsi (dan lebih mikir ketika mau beli barang) kita bisa yaaa dikit-dikit lah menuju perbelanjaan fashion yang lebih ethical.

4. Plastic Consumption 


cover Natgeo terbaru dapat dari sini
Konsumsi plastik rasanya udah merupakan masalah yang super-super parah sih. Setiap lihat dokumenter tentang plastik-plastik yang ada di lautan ataupun di gunung (pernah lihat ada orang share foto kemasan minuman dari tahun 2000an awal yang masih ditemukan utuh, tahun 2018!) Memang sih mengurangi konsumsi untuk hal yang satu ini aku akuin susaaah banget, karena dia ada dimana-mana, seperti segitiga! (lah, ngelawak.. tapi yakin deh ga banyak yang paham). Mau jajan bakso, dibungkusnya plastik, habis fotokopi ditaruhnya di plastik, belanja juga pakai kresek, bungkus daging pakai plastik, daaan masih banyak lagi. Ini juga berkaitan sih sama penggunaan sedotan plastik yang di atas. Intinya, banyak sekali plastik-plastik single use alias sekali buang, sehingga dia menumpuk, padahal dia tidak bisa terurai atau lamaaaaaaaaaa sekali terurainya.
Tapi untuk sementara ini, aku masih menggunakan plastik sih, semisal ketika lupa bawa tas belanja ke supermarket, waktu ngepanasin makanan yang potensi muncrat dan malah mengotori atau bikin bau microwave yang dipakai bersama, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, aku sedang berusahaaa banget supaya bisa mengurangi kebiasaan ini. Misal, dengan memprediksikan kapan mau belanja supaya inget bawa tas belanja, atau menolak plastik semisal lagi bawa tas yang sekiranya cukup buat dijejelin barang belanjaan (meskipun kalau bahan makanan ya susah sih, kan jadi mbleber basah-basah gitu kan).

Ya susah sih memang untuk benar-bener menghindari konsumsi plastik, tapi bukan berarti terus kita harus menerima status quo itu saja dan njegideg tidak melakukan apa-apa. Pokoknya aku mah berangkat dari kutipan yang mengatakan bahwa Tuhan itu menghargai usaha umatNya, gitu kalau nggak salah. Meskipun belum bisa jadi kekasih bumi, ataupun sahabat bumi sejati, tapi setidaknya kita menyadari kesalahan kita dan berusaha, meskipun sedikiiiiiiiiit saja. Semoga Bumi bisa senyum dikitttt juga melihat usaha kita, dan siapa tahu kebiasaan positif yang kecil-kecil ini bisa diikuti oleh orang-orang di sekitar kita. 


Intinya aku masih banyaaaaak sekali PRnya untuk menjadi teman bumi, sahabat bumi, apalagi mau jadi kekasih bumi... masih jauuuuuuh banget *hiks*. Akan tetapi, aku akan terus berusaha melakukan PDKT dengan caraku, mengorbankan kenyamanan sedikit-sedikit, tapi semoga bisa konsisten. Semoga tulisan ini bisa terus menjadi pengingat buat aku supaya bisa konsisten dengan komitmen tipis-tipis yang sudah dibuat. Aaamiiin. 

Friday, 11 May 2018

Just keep swimming, keep swimming!


Salah satu kutipan hidup yang aku pegang (baru-baru ini) berasal dari kata-kata Dory di film Finding Nemo: Just keep swimming, keep swimming! 

Sebagai orang yang suka over-thinking dan banyak pertimbangan (anak libra! *nyalahin zodiak* wkwk), rasanya capek gitu udahan ketika nge-plan berbagai hal yang ada di depan mata. Ujung-ujungnya gampang stress sendiri hahahaha. Kemudian, di suatu hari, ketika aku melihat si Dory ini menyemangati Ayah Nemo buat terus berenang di lautan kejam buat nemuin anaknya, seakan-akan speaks to me gitu loh! Dory kan anaknya chill gitu yah, tapi dia tidak mudah putus asa, dan semacam kayak yaudah dilakoni sik, jalan sik terus wae gitu kaaan. Saat itulah aku mendapatkan sebuah HIDAYAH! (gila lho, ini aku bisa dianggap penganut kepercayaan baru apa kali ya.... )

Asalkan kita punya tujuan yang baik, dilakukan dengan hal-hal yang baik, pasti akan ada jalannya kok. Apapun yang kita jalani sekarang, nanti akan mengantarkan kita ke sebuah posisi dimana kita meant to be. Jalanin dulu aja, jangan berhenti terus jalan, ambil napas bentar kayak paus ke atas itu boleh, tapi jangan kelamaan.