Tuesday, 20 March 2018

Cerita Lolos Beasiswa LPDP (Part 2)

Akhirnya, bakalan saya lanjutin juga bagaimana kelanjutan dari Seleksi Administrasi LPDP.
Sebenarnya, nggak tau juga sih apa ada yang baca blog ini atau enggak, tapi kan yakali ajaa ada yang nyasar saat butuh info tentang LPDP. Yagaaaak, iya deh. Amin.

Jadi, setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi (akan diberitahukan melalui email), maka beberapa waktu setelah itu kamu akan diberi jadwal kapan dan dimana seleksi substansimu akan diadakan (ingat, kamu udah milih preferensi tempat tes sedari awal, jadi jangan heboh bingung kok tiba-tiba ditempatin dimana/disana, karena plis...remember what you did!)

Oiya, seleksi substansi ini meliputi :
1. Wawancara
2. Focus Group Discussion
3. Essay on the spot

Sejak tahun 2016, bagi pendaftar yang melamar untuk tujuan kampus luar negeri, ketiganya akan dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris.
Nah, berikut cerita saya waktu menjalankan seleksi substansi. Tanggalnya.....errr lupak! wkwk
Yang jelas, waktu itu seleksi substansi saya dilakukan dalam waktu 2 hari. Hari pertama adalah untuk Essay dan FGD, dan hari kedua untuk Wawancara. O iya, biasanya akan ada 3 hari waktu tes di setiap test center. Kebetulan, saya mendapat di hari kedua dan ketiga, jadi hari pertama tes saya adalah pada hari kedua tim LPDP mengadakan seleksi substantif di Yogyakarta (bingung nggak? haha jangan bingung! cermati lagi! wkwk)
Tes substantif dilakukan di Gedung Kementerian Keuangan? atau ya, kalau tidak salah Gedung Keuangan Negara Yogyakarta, di daerah Jalan Kusumanegara. Begitu datang, siapkan semua persyaratan administrasi yang telah sebelumnya kamu upload untuk diverifikasi oleh tim LPDP, dan bawalah semua dokumen yang ASLI. Ijazah, SKCK. Sertifikat IELTS/TOEFL, form aplikasi, dll. Waktu itu saya agak bingung kayak, kenapa harus asli sih, kan medeni ya kalau-kalau ilang atau rusak gitu gara-gara dibawa-bawa. Tapi tau nggak, ternyata ada lho beberapa orang yang memalsukan dokumen-dokumen seperti itu supaya bisa lolos. W-O-W. Ini kekagetan yang bercampur sedih dan miris. Gila ya, ijazah dipalsu. Ada pula sertifikat IELTS dan TOEFL yang palsu. W-O-W lagi.

Setelah melakukan verifikasi, akan dipanggil serentetan nama untuk mengikuti tes. Ini harus ngeh sih, jangan sampe bikin emosi panitianya karena kamu ngelamun pas dipanggil atau simply gak ngeh wkwk.
Akhirnya, namaku dipanggil untuk masuk ke grup (kalau ga salah) 13A. Ini grup FGD, sekaligus rombongan yang akan satu ruangan untuk mengerjakan essay. Waktu itu, grup kami mengerjakan essay terlebih dahulu baru kemudian berkumpul untuk FGD. Waktu penulisan essay seingat saya tidak begitu lama, kurang lebih 30-45 menit. Oleh karena itu, kalau udah ngeh sama pertanyaan essay, langsung tulis! Haha. Ga usah kelamaan kontemplasi, apalagi kalau kamu nulisnya lamakkk!
Setelah itu, baru FGD. Kelompok saya terdiri dari sekitar 10an orang kalau saya tidak salah ingat yaaa hehe *makanya abis tes langsung bikin catetan, trev* dari berbagai disiplin ilmu. Seingat saya, waktu itu mayoritas memiliki latar belakang sains, yang ilmu sosial hanya ada 3 orang termasuk saya. Tema FGD saya waktu itu adalah kebakaran hutan di Riau. Hmm cukup umum, ya? Tapi kalau untuk tes FGD, dengan berbagai kepala yang tentunya, memiliki ambisi sama untuk mendapatkan beasiswa? Well, pasti akan ada yang berusaha mendominasi, akan ada yang kurang terlihat, dan lain-lain...atau ada yang standar aja, seperti saya yang ga paham istilah-istilah sains yang beberapa lontarkan tapi ikutan senyum setuju dan nambahin itty-bitty aja *cry banget kalo inget FGD*.

Sepulang hari itu, saya pasrah. FGD saya kayaknya ga oke-oke amat, essay pun sepertinya agak ngambang.

Besoknya, saya dapat giliran wawancara paling pagi! Jam 8 pagi kalau enggak salah, atau jam 9 ya? *lagi-lagi lupa*. Nah, ini yang cukup unik. Biasanya, kita akan dihadapkan dengan 3 orang pewawancara yang katanya akan terdiri dari 1 orang psikolog, 1 orang mewakili lpdp, dan 1 orang akademisi dari bidang ilmu yang akan kita tuju. Tapi, entah mungkin saya sedang beruntung, saya hanya diwawancarai oleh 2 orang. Wawancara saya juga cukup santai, bahkan ketika mengatakan saya sedang magang di Pusat Studi Jerman, Bapak pewawancara langsung antusias "Sprechen Sie Deutsch?" yang langsung kujawab dengan ngasal, "Ja, Ich spreche ein bischen Deutsch, zum A-1 level" - gatau artinya bener apa enggak, tapi sekiranya ngomong kalau baru belajar dikit, masih level A1. Ibu pewawancara, yang kayaknya psikolog, malah nanya "Kalau misalnya kan sekarang ga punya pacar, terus ntar kecantol sama orang sana terus ga mau pulang gimana?" yang kujawab dengan enteng "Saya nggak suka bule, bu hehe" teruuuus tapi ibunya nantangin, "yang disana kan nggak cuma bule, kalo dapet diplomat gimana?" ---sebenernya dalam hati ingin berkata AMIN dan Like 100000x ---- tapi harus dengan profesional menjawab, "Sebenarnya masih belum ada pada rencana saya sih untuk menikah dalam waktu dekat, tapi sekiranya sudah selesai studi, ya saya harus balik ke Indonesia sesuai dengan apa yang saya janjikan untuk LPDP". Yah, begitulah.

Begitu keluar, teman-teman saya yang satu waktu pas masuk ke ruang wawancara masih belum keluar. Ternyata, kata mereka, banyak pewawancara yang rasanya cukup memberikan pressure, menanyakan tentang rencana riset, meragukan kemampuan mereka untuk melakukan riset, dan lain-lain. Langsung aja aku merasa.....zzzziiing. Kok, aku ditanyainnya selo banget, ya? Apa karena pewawancaranya udah bosen? Atau karena emang aku gabisa digali? Wah! pokoknya langsung parno! Soalnya, aku nggak disinggung sama sekali tentang rencana riset, maupun misalnya, hal-hal yang akademik banget yang precil-precil tentang HI gitu.

Sekali lagi, saya pulang sambil deg-degan dan heboh di Pusman, saya lolos gak ya.......kok wawancaranya selo banget.

Dan ternyata, beberapa waktu kemudian,
saya dapat email, dan Alhamdulillah,
dinyatakan LOLOS.


Jadi, buat kalian yang menanyakan : Kok bisa sih Trev, lolos LPDP?
Tipsnya apa sih, yang kamu pikir bisa bikin kamu lolos buat LPDP? Gimana sih, biar aku juga bisa lolos LPDP?

Teman, sesungguhnya saya enggak tau. Kalo dilihat di seleksi substansi ini, nggak ada satupun tahapan yang saya yakin 100%, kayak..ah, aku udah oke nih di esai, lolos lah pasti...atau semacam itu. Yang ada, begitu tiap selesai satu tahap........lemes, kayaknya bakalan ngulang nih. Mampus. IELTSnya cuma buat 2 tahun pula. Asem.
Yagitu.

Tapi sih, mungkin yaaa mungkin ini beberapa tips buat seleksi yang kayaknya nih temen-temen saya yang lolos bentukannya begini-begini juga :
1. Jadi diri sendiri, eh kalau bisa sih malah jadi the best version of yourself! Pokoknya gausah fake, kamu lagi wawancara sama psikolog.
2. Beri kesempatan orang bicara atau kasih pendapat, saat FGD. Jangan terlalu mendominasi *kayaknya sih gitu*. Kalau ngomong, jangan ngasal pokoknya urun rembuk tapi ga ada isinya.. Ya sepik-sepik boleh, tapi yang mutu dan bermanfaat!
3. Pelajari pelajari pelajari pelajari banget apa yang kamu udah submit buat seleksi administrasi. Baca esaimu, baca lagi study planmu, baca riset apa yang akan kamu tekuni.
4. PEDE! Bikin orang yang seleksi itu yakin kalo mereka harus milih kamu, or its their loss if they chose not to. Pede bukan berarti sombong atau arogan ya. Humble-humble brag dikit gitu lahh wkwk asem aku ngajarin apaan nih kok jadi ga bener wkwk
5. Pakai pakaian yang rapi, sopan, bersepatu, tapi tetap nyaman. Yah ini agak common sense sih, tapi cobalah terlihat oke di hadapan para juri. Walaupun outfit gak mahal-mahal amat, tapi kalau bersih dan rapi kan jadi OK dan bisa kasih first impression yang juga OK.

Hmm kayaknya sesimpel itu aja sih, yang aku tahu. If there's more to add, aku akan kasih tambahan di waktu-waktu berikutnya.
Dan,
Semoga yang baca sukses LPDP (yang mau daftar aja sihh haha)! Like dan komentar Amin di postingan ini. Hahahahaha. AMIN.

No comments:

Post a Comment