Tuesday, 20 March 2018

Cerita Lolos Beasiswa LPDP (Part 1)

Halo, blog! 
Untuk post pertama, aku kepikiran untuk mem-post sesuatu yang lumayan sering banget ditanyain sama orang-orang. Kan, lumayan, kalau ada yang tanya sekarang bisa ngasih link blog ini. Gimana, sih, caranya biar bisa lolos beasiswa LPDP kemarin? 

Disclaimer : Mekanisme seleksi bisa jadi berubah setiap tahunnya, aku hanya share dari edisi 2015 ya which is udah agak jadul sih hehe tapi secara general mungkin akan ada tahapan-tahapan yang sama. 


Tahun 2015 lalu, aku sempet magang di sebuah pusat studi di UGM, sebut saja PUSMAN UGM haha. Nah, karena satu dan lain hal kesibukan di PUSMAN, yang sebenernya juga ga sibuk-sibuk amat *intinya lebih karena aku procrastinator aja sih* *self-getok kepala*, aku baru daftar LPDP untuk batch IV di tahun 2015, which is adalah batch terakhir di tahun tersebut yang jatuh pada bulan Oktober 2015.

Nah, in general, tahapan dari pendaftaran beasiswa LPDP ini seleksi intinya ada 2 :
1. Seleksi Administrasi
2. Seleksi Substansi; yang meliputi : Interview, Menulis Esai on the spot, dan Leaderless Group Discussion

Setelah dinyatakan lolos seleksi Administrasi (yang akan diumumkan melalui email masing-masing), berikutnya kamu akan diberikan jadwal untuk Seleksi Substansi yang akan diselenggarakan di kota tempat ujian pilihan kamu. Nah, baru setelah seleksi substansi kamu dinyatakan lolos, maka kamu akan ikut sebuah acara seru selama seminggu yang namanya adalah Persiapan Keberangkatan atau yang biasa disingkat PK, dimana kamu bakalan dipertemukan dengan buanyak orang dari seluruh Indonesia, dari berbagai lapisan umur *ya tapi ngga sampe tua-tua banget juga sih*, dan berbagai profesi. Pokoknya such an experience! 

Oke, in general gitu sih. Berikut aku kasih ringkasan untuk printilan-printilan yang ada di atas, 

1. Seleksi Administrasi
Seleksi administrasinya sendiri udah internet-based, jadi silakan langsung mendaftar saja melalui website lpdp disini dan membuat akun untuk pendaftaran kamu.
Sebelum kamu mengisi akun tersebut, pastikan ya sudah memahami mengenai apa itu beasiswa LPDP, Persyaratan, dan lain-lainnya yang infonya dapat dilihat juga melalui website LPDP Kemenkeu. Jangan lupa juga untuk mengunduh User Manual di laman pendaftaran tadi, ya! Berguna banget. Kayak kalo beli mesin cuci kan gimana cara pakenya kita lihat manual, ya sama gitu, gimana cara ngisinya disitu sudah dijelaskan dengan rapih.

Note : Untuk isian universitas tujuan, pastikan kamu isi dengan nama universitas tujuan yang emang akan kamu pilih (bukan coba-coba di awal), karena setelah kamu pilih, klik, dan kamu mulai isi data personal, nama universitas pilihan tadi ga bisa diganti! *pengalaman pribadi*. Daripada harus mulai bikin akun dari awal lagi, mendingan tetapkan hatimu sedari awal, gan! 

Dalam akun yang kamu buat tersebut, akan ada beberapa hal yang harus diisi dan cukup detail mengenai berbagai hal, baik akademis maupun non-akademis, kamu juga harus mengunggah beberapa dokumen (yang agak ribet adalah SKCK dan beberapa surat keterangan terkait status kesehatan), Surat Rekomendasi, Study Plan, dan menulis Esai (kalau nggak salah, temanya mengenai Sukses Terbesar dalam Hidup)

Note : 
Pertama, Persiapkan semuanya dengan baik, bahkan kalau perlu dari jauh-jauh hari!
Ini terutama adalah untuk SKCK (kalau kamu anak kos dan domisilinya jauh dari kampus, luangkan waktu untuk mudik dan mengurus SKCK). Buat kamu yang domisilinya di Kabupaten, misalnya, plis luangkan waktumu untuk urus ini apalagi kalau pengurusan SKCK di Polres Kabupatenmu ada di daerah yang cukup jauh *seperti saya misalnya, dari Sengkaling ke Kepanjen--kabupaten Malang*. Untuk SKCK sendiri pun syaratnya cukup melelahkan karena harus minta surat pengantar mulai dari Pak RT, RW, Kecamatan, sampai Pak Polisi di Polsek, serta Koramil (seharian muter, nambah biaya ya 7-10ribu uang rokok lah per-instansi.. Ckckck padahal harusnya gratis tuh). Ah iya, Tidak akan ada opsi untuk mengunggah SKCK tersebut karena baru akan kamu bawa saat hadir pada seleksi substansi *ditunjukkan kepada panitia*. 

Kedua, penting juga meluangkan waktu untuk mengurus surat-surat terkait kesehatan (Bebas TBC, Bebas Narkoba, dan Keterangan Sehat). Pengalamanku kemarin, LPDP mewajibkan surat tersebut dikeluarkan oleh Rumah Sakit Pemerintah, dimana rumah sakit milik pemerintah ini kebanyakan sangat ramai dan pelayanannya nggak bisa secepet Medical Lab swasta *Sad but true*. Luangkan paling tidak 2-3 hari untuk bolak-balik Rumah Sakit *pengalaman*. Oh ya, kuatkan fisik juga kalau misalnya RS tersebut luas, karena jarak antarpoli yang biasanya cukup jauh, ditambah harus ke kasir, dll....jadi kowe kudu kuat! 

Ketiga, untuk menghemat biaya medical check-up yang ternyata tidak sedikit tersebut, bisa survei cari RSUD yang cukup 'mblusuk' (tapi memiliki layanan medical check up yang dibutuhkan juga sih) daripada di Rumah Sakit besar yang biasa jadi jujugan dari daerah-daerah lain. Kenapa? Satu, biasanya lebih sepi. Kalau di RS besar, misalnya, RSUD Sarjito tempat aku kemarin check up, ramenya Masya Allah. Sedangkan di RSUD lain, i.e. RSUD Wirobrajan, cenderung lebih sepi. Dua, biayanya lebih murah! Untuk rangkaian tes yang sama, aku mengeluarkan biaya sekitar +/- Rp 800,000 di RSUD Sardjito, sementara seorang temanku yang lain hanya perlu mengeluarkan biaya sekitar +/- Rp 400,000-500,000 di RSUD Wirobrajan atau RSUD Sleman. Lumayan, kan? 


Untuk Study Plan, akan lebih asik apabila kamu bisa menulis rencana studi kamu dengan detail. Hal tersebut bisa memperkuat aplikasi kamu (sepertinya sih gitu), karena akan memberi kesan bahwa : anak ini udah niat banget dan tahu dia mau belajar apa! In my case, study planku juga memuat mata kuliah apa saja yang akan aku ambil, kenapa aku harus ambil jurusan dan makul itu, beserta rincian biaya perkuliahan dan biaya hidup untuk masa kuliah.

Mengenai Esai, sebenarnya beberapa kali kan aku juga ikutan baca esai untuk seleksi-seleksi gitu ya, dan rasa-rasanya lho ya...yang terpenting adalah orisinalitas ide yang kamu punya, serta kontennya apakah sesuai dengan nilai-nilai dari pemberi beasiswa yang kamu tuju. Karena aku yakin, setiap orang bisa menginterpretasikan tema tersebut dengan pemikiran masing-masing, tapi kan ya bosen kalau misal isinya sangat normatif dan tidak detail (tidak me-relate dengan contoh nyata dari kehidupan pribadi si penulis), atau misal tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut pemberi beasiswa. Contoh nih, misalnya mengenai Sukses terbesar dalam hidup...dan kamu menulis bahwa sukses terbesar itu adalah ketika sekarang kamu sudah kaya, bisa jalan-jalan ke luar negeri, koleksi tas desainer terkenal, dan makan-makan cantik di restoran lucu....Nah. Iya sih, it could be your definition of success, tapi kan Duniawi dan self-centered banget gitu lhooo...dan merupakan sebuah contoh kesuksesan yang tidak memberikan nilai lebih pada orang lain atau lingkungan sekitarmu-- yang mana, biasanya merupakan nilai-nilai yang akan dilihat dari pemberi beasiswa. Aku yakin sih masing-masing orang pasti punya kisah suksesnya masing-masing yang oke, kadang kamu perlu mikir agak lama aja sih.

Oh ya, untuk esai dan study plan tadi sangat membantu sekali apabila kamu punya seorang proofreader yang bisa baca ulang esai dan study plan kamu, sehingga apabila ada kesalahan, atau misalnya seperti tadi--esainya kurang 'bernilai', maka akan ada orang yang membantu kamu untuk menyadari kesalahan itu. Syukur-syukur ikut urunan ide supaya esai dan study plan kamu bisa jadi lebih cantik! 

Untuk Surat Rekomendasi, aku rasa tiap-tiap orang berbeda juga sih. Kemarin aku hanya melampirkan 1 surat rekomendasi (Dari dosen penguji skripsi), sementara temanku ada yang melampirkan 3 surat (dari instansi, pemerintah, akademik...pokoke josss deh), dan kami sama-sama lolos. Sepengetahuanku, yang diwajibkan adalah 1 surat rekomendasi, kalau ada banyak gitu bisa jadi bahan pertimbangan dari juri dan panitia seleksi mungkin, ya? Oiya, mungkin kalau bisa juga rekomendasi yang diberikan (misal dari dosen/akademisi), orang yang merekomendasi tersebut paling tidak memiliki gelar  yang lebih tinggi dari jenjang yang akan kita pelajari. Misal kita mau studi S2, maka sepertinya lebih oke kalau misalnya dosen yang sudah bergelar PhD atau bahkan Profesor-lah yang memberikan rekomendasi. 

Overall, itu adalah beberapa hal yang aku rasa perlu di high-light dari dokumen-dokumen yang diperlukan sih. Untuk hal-hal lain seperti transkrip, ijazah, sepertinya tidak perlu ada yang diberikan *note hahaha. Oke, itu dulu Part I-nya tentang Seleksi Administrasi. Dikit aja sih dari aku, karena banyak blog yang membahas lebih luengkaaap, silakan digoogle dengan kata kunci favorit anda! Haha

No comments:

Post a Comment