Wednesday, 21 March 2018

Belajar apa hari ini? Asian Values and Democracy

Halo, haloo
sebagai mahasiswa yang kurang pandai membagi waktu (untuk menyenangkan diri sendiri dan untuk belajar atau mengaktualisasikan diri) please bear with me bahwa hal-hal yang akan kushare disini sebagian besar adalah apa yang kudapatkan di kelas ya he he he. Mau nyari topik lain sudah ku lelah, nanti ujung-ujungnya malah curhat-curhat nggak penting. 
Karena, 1. Udah pasti aku reading jadi ngerti lah ya ini ngomongin apa, 2. Kalaupun lagi nggak reading, topiknya, kan dibahas di kelas yah, jadi... aku kurang lebih juga paham lah ya (alasan, iya..)

Semester terakhir ini aku ambil 3 kelas selain disertasi: Nuclear Non-proliferation, UN Peace& Security, dan Asia-Pacific Politics. 
Baiklah, mari kita mulai pointers-pointers dari hal-hal yang aku pelajari hari ini, kelas Asia Pacific Politics! 

Di kelas ini, kami dapat bahasan mengenai Asian values dalam kaitannya dengan model-model development negara-negara di Asia. Referensi utama kami ada 2 esai, yang pertama adalah wawancara Foreign Affairs dengan Bapak Lee Kuan Yew, dan yang kedua adalah esai yang ditulis oleh Bapak Kim Dae Jung sebagai "balesan" terhadap argumen yang disampaikan oleh Pak LKY. Bapak Lee Kuan Yew adalah Perdana Menteri pertama di Singapura, dan Bapak Kim Dae Jung adalah presiden Korea Selatan pada masa pemerintahan 1998-2003. (Sila klik link artikelnya ya, kalau iseng ingin membaca, menurutku mereka light reading, nggak rumit bahasanya pun, alhamdulillah)

Argumen yang diberikan oleh LKY adalah, bahwa Asian values memegang peranan yang sangat penting dalam bangkitnya bangsa-bangsa Asia. Beliau bahkan sedikit mencibir mengenai pembangunan ala Barat yang mengedepankan individual rights atau kebebasan individu yang dapat menganggu tatanan sosial. Sehingga, menurut LKY, pembangunan ala Barat tidak sesuai untuk diterapkan di bangsa-bangsa Asia. He is saying that, in the West, they have "too much" democracy, and "too many" individual rights". Bila ditelisiki, beliau mengacu kepada suatu bentuk sistem politik Confucian system yang dahulu diterapkan di Cina, yakni tributary system dari unit-unit terkecil  (kerajaan2 di Korea, Jepang) kepada sebuah umbrella besar, yakni kerajaan di Tiongkok dimana Tiongkok sebagai sebuah kerajaan besar tidak akan mengganggu/ mengancam kerajaan-kerajaan kecil tersebut, as long as they know their place, yakni mereka tetap memberi tribute atau upeti! Asian values yang dikatakan oleh LKY meliputi: kebiasaan untuk bekerja kelas, kepedulian terhadap keluarga dan sistem masyarakat, kebiasaan untuk menabung, dan beberapa hal lainnya. Dengan values masing-masing individual seperti inilah yang kemudian menjadikan negara-negara di Asia (utamanya di Asia Timur) dapat maju seperti sekarang ini. Pak LKY meng-assert bahwa, culture is our destiny

Di sisi lain, Bapak KDJ me-rebutt argumen dari Pak LKY. Bahwa, Asian values adalah kedok di balik authoritarian system yang diberlakukan di negara-negara yang memberlakukannya. Semisal, Cina dan Singapura. Dalam melihat case runtuhnya USSR, misalnya, Pak KDJ tidak melihat itu sebagai the triumph of capitalist over communist, bur rather, it is the case of democracy over dictatorship. Hmmm menarik. Beliau kemudian juga mencatut beberapa hal dalam Confucian system yang sebenarnya mendukung terciptanya sistem demokrasi di negara-negara Asia, apabila memang Pak LKY mengacu kepada sistem tersebut. Frasa "great peace under heaven", yang menjadi salah satu penyokong Confucian values ini mengacu kepada suatu bentuk sistem yang berkeadilan, yang dapat dicapai dengan sistem demokrasi yang mengedepankan transparansi. Intinya, Pak KDJ bilang, tidak baik apabila kita mengkambinghitamkan sistem demokrasi ala Barat dengan argumen bahwa dia tidak sesuai dengan tatanan masyarakat Asia, bahwa bahkan terdapat values-values yang dapat digunakan dan dibawa untuk menyokong terciptanya demokrasi yang lebih baik. Bahwa, culture is not destiny, but democracy is. 


Which side are you, then? 

Untukku, personally, dan dengan kapasitas pemahaman sampai saat ini, saya lebih setuju kepada Pak KDJ bahwa values yang disampaikan Pak LKY kurang lebih merupakan sebuah pembenaran dari sistem pemerintahan otoriter yang beliau terapkan di negaranya. Akan tetapi, di sisi lain, agak setuju juga sih sebenarnya bahwa sistem demokrasi ala Barat tidak akan selalu tepat untuk diterapkan di berbagai pemerintahan di dunia ini. Ada beberapa hal sebenernya yang menarik, tapi aku juga nggak tahu jawabannya, jadi mungkin ada yang tertarik untuk berdiskusi?
1. Sistem pemerintahan otoriter, menciptakan kemakmuran? Contohnya, Singapura dan Cina. (Tapi, di sisi lain, kita melihat kasus pelanggaran HAM, dan yang kelihatan dari 2 negara ini adalah, adanya kesenjangan dalam pendapatan? the closest ones to the authorities will be best served)
2. Kegagalan upaya pembangunan negara-negara di Afrika pasca dekolonisasi, apakah karena mereka tidak share Asian values seperti masyarakat Asia? (Aku nggak begitu paham tentang area Afrika, sih, tapi aku yakin bahwa ada hal-hal lain yang mempengaruhi ini)

Demokrasi memang bukan panacea alias obat untuk segala-gala penyakit yang ada dalam sebuah negara, baik dalam sistem pemerintahan ataupun sistem kemasyarakatannya. Akan tetapi, nilai-nilai yang ada dalam sebuah sistem demokrasi, terutama nilai transparansi dan keadilan, menurutku adalah hal penting. 

Oh iya, satu hal yang aku dapat dari membaca kedua tulisan ini, baik KDJ dan LKY, keduanya sama-sama ngomongin 1 hal yang sama, Asian values, tapi bagaimana si Asian values ini kompatibel dengan demokrasi, keduanya punya pendapat yang sangat berbeda. 
Dua-duanya sama-sama pintar. Keduanya sama-sama membawa negaranya ter-develop menjadi negara yang lebih baik dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya. Tapi,
1. Pak KDY men-deliver ketidaksetujuannya dengan ELEGANCY. Hahaha, aduh ini udah mulai pake bahasa-bahasa alayku. Maksudnya, ya doi bisa nulis gitu, padahal by the time dia nulis, beliau juga belum jadi presiden South Korea, dan tidak se-senior Pak LKY (yang udah jadi PM Singapura duluan).
2. Berangkat dari satu set hal yang sama, Confucian system, Pak LKY bisa pick hal-hal yang dia anggap klop dengan kemajuan pemerintahan Singapura, begitupula Pak KDJ, beliau bisa mem-pick hal-hal yang menurut beliau menyatakan bahwa Asian values itu sejalan dengan demokrasi.

Sama halnya dengan debat-debat yang sering terjadi dewasa ini (((dewasa ini))), paling gampang buat yang muslim, adalah tentang Al Quran dan penafsiran akan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Gampang sekali buat masing-masing kita untuk cherry picking ayat atau penafsiran yang kita anggap sesuai dengan pemikiran kita, untuk menganggap sesuatu itu benar. Karena, seringnya di agama kan yang ada, adalah benar atau salah ya. Either you are with us, or you are with them.
Jadi, akan lebih baik apabila kita..... banyak-banyak refleksi, apakah kita selama ini juga "menggunakan" ayat-ayat tertentu untuk pembenaran tindakan kita dan melupakan isi the whole kitab suci? Meng-ignore ajaran-ajaran lain yang tidak sesuai dengan pandangan kita sebagai individu?\

Kedua, apabila kita mau me-rebutt suatu argumen yang kita tidak setujui, kita harus bisa elegan seperti Pak KDJ! Nulis, pakai fakta dan argumen yang logis dan reasonable. Sedih sih, kalau sekarang, kita melihat bahwa debat netizen isinya kosong, yang penting paling keras aja ngatainnya. Huft. 

Oke, sekian curhat dan belajar nulis hari ini. Semoga bermanfaat buat yang membaca! 

No comments:

Post a Comment