Thursday, 22 March 2018

Belajar apa hari ini? UN Peacekeeping Operation

Oke, haloo semuanya! Trevi bikin post lagi! *ini beneran masih anget-anget tai ayam, rajin amat ngepost* kita lihat sebulan lagi.... ha-ha-ha 

Oiya, teman-teman yang mau melihat bentuk kerjaan saya selain dalam bentuk tulisan, sa juga punya akun instagram yang isinya adalah hasil-hasil gambaran tangan saya baik dengan menggunakan media manual (kertas, spidol, cat air dkk) maupun digital. Silakan kunjungi @trevidraws ya! Emang anaknya lagi suka bikin cem-macem platform, jadi jejak digitalnya dimana-mana nih.... Eh, tapi menurutku itu lumayan penting loh. Buat aku, yang mau belajar menggambar dan menulis, dengan adanya atensi dari orang-orang di sekitar, membuat aku jadi lebih semangat untuk terus bikin hal baru atau eksplorasi cara menggambar ataupun. Teruuus, karena tersimpan di platform digital, jadi semacam ada back-upannya gitu kaaan, dan pada suatu ketika, kita bisa lihat progress kita dalam hal-hal tersebut, buat aku ya, dalam hal menulis maupun menggambar. Tapi genggesnya emang bagian jejak digital dimana-mana itu, sih, jadinya gagal menjadi anak antimainstream yang cool dan hanya bisa direach melalui hubungan personal. HUFT *ini adalah cita-cita sejak kuliah, tapi beneran hanya jadi angan-angan, anaknya terlalu heboh dan semangat menggunakan sosial media* -_-

Lanjut, ke topik utama, kali ini postingan tentang pelajaran hari ini, yaitu UN Peace and Security.
Intermezzo, ya, awalnya saya sebagai anak yang ngaku-ngakunya super-realis dalam melihat hubungan internasional, pesimis dan ogah-ogahan mau ambil kelas ini yang super-cinta perdamaian. Kalau di International Security, kita dicekokin bahwa war is unavoidable, dan sebenernya war is a cycle dst dst sementara di kelas-kelas Studi Perdamaian, kami jelas akan berfokus untuk menciptakan perdamaian dan menyelesaikan, bahkan mencegah adanya kemunculan konflik. 

Satu hal yang aku senangi dari kelas ini adalah, kami banyak sekali mendapat guest lecture yang memang bekerja dalam bidang ini. Sesuatu hal yang keren, sih, karena kami tidak hanya mendapatkan insight dari kelompok akademis, tapi juga para praktisi yang terjun langsung di lapangan. Minggu ini, kami kedatangan seorang jenderal, namanya Pak Tim Ford. Beliau pernah memimpin beberapa operasi penjagaan perdamaian atau peacekeeping operation (PKO) di beberapa belahan dunia, termasuk di antaranya, ia terlibat PKO di Timor Timur yang digadang-gadang menjadi contoh salah satu PKO yang sukses (meskipun harus mengalami hingga 5 kali pergantian misi). 

Jadi, PKO sendiri sebenarnya nggak ada tuh di dalam UN charter yang tertulis jelas PKO, gitu. Sila cek UN Charter di webnya langsung, ya! Tapi, dia masuk ke dalam lingkup kegiatan UN yang berada di Chapter VI dan VII. Jujur, ya, selama ini ketika mendengar kata-kata PKO, yang aku bayangkan hanyalah mas-mas tentara Indonesia yang gagah dan memiliki hati mulia, gitu. Bahkan aku inget salah satu temanku, sebut saja Miss Nano, punya cita-cita untuk menikah dengan tentara yang terlibat di PKO! HA HA.... masa-masa itu...

Nah, ternyata pada praktiknya, PKO itu cukup njelimet ya guys. Hmm, ada banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum UN dapat memberikan mandat kepada pasukan PKO. Tapi sih, emang yang menurutku (sekali lagi menurutku aja ya), paling penting, ada tiga poin: persetujuan dari UNSC atau bahasa Indonesianya, Dewan Keamanan PBB, consent atau kesediaan dari negara yang akan dikirimkan PKO, dan ini nih... is there any peace to keep at the first place. Dan, tantangannya pun ada banyak sekali, semisal nih, aku baru tahu bahwa budget untuk kegiatan PKO di PBB ini super minthik cilik sekali, yaitu sekitar US$ 8 billion per-tahun (kalau nggak salah quote, yah... tapi seingatku sekitar ini kata beliau). Sangat-sangat mepet untuk sekitar 15 aktivitas PKO yang sedang dilakukan PBB saat ini. Jadi, negara-negara pengirim PKO pun ujung-ujungnya jadi sering rugi gitu sih dari segi finansial dengan mengirimkan tentara-tentara keamanannya untuk misi PKO, karena kan mereka harus melakukan training, menyediakan persenjataan untuk keamanan, biaya hidup, dan lain-lain... (kemudian membayangkan jadi istri tentara PKO, menjadi tidak bahagia lagi....hahahaha)

Di lapangan pun, tentara-tentara PKO ini juga harus mampu melaksanakan mandat yang diberikan, pun menjaga kredibilitas dan legitimasi mereka. Terkadang, di awalnya, pemerintahan negara tersebut sudah menyetujui adanya kegiatan PKO di negara mereka, akan tetapi, pada perkembangannya bisa jadi muncul militia-militia yang kemudian tidak mengakui atau bahkan mengecam keberadaan pekerja-pekerja dalam misi PKO ini. Hih. Runyam, kan. Mengenai penggunaan kekerasan, atau senjata, dalam misi PKO, perlu di-underline bahwa tentara PKO boleh menggunakan kekerasan, selama hal tersebut dilakukan untuk self-defence ataupun men-defend mandat yang diberikan dalam misi tersebut. Bahkan, si Bapak membawa sebuah brosur yang menjelaskan bahwa PK armies should use more force, karena di lapangan seringkali mereka di-undermine oleh kelompok-kelompok tertentu, macem apa yah, di tes kesabarannya gitu kali ya, yeee nggak boleh nembak kan luu, gitu. Jadilah, katanya beliau, pernah suatu saat kayak mereka macem diancem gitu, dianggap nggak punya persenjataan ataupun kemampuan untuk melakukan kekerasan, jadilah mereka meledakkan beberapa biji bahan peledak yang mereka miliki, as if saying, yeee kita juga punya senjata kalii, ga usah sok-sokan ngeledek! gitu. 

Sejauh ini, dengan pola pikir yang awalnya sangat pesimis dengan kerja PBB, aku sering aja menghela napas... PBB mah dibikin Amerika aja biar doi juga ikut ambil bagian besar di dalamnya. Secara, awalnya doi nggak mau gabung kalau nggak dikasih hak veto pun. Akan tetapi, melihat bahwa benar-benar ada orang-orang di luar sana yang peduli dengan perdamaian dan mengusahakan supaya organisasi ini berjalan dengan baik, it WOW-ed me. At least, kita jadi tahu, PBB itu ada, dan mereka sudah berusaha untuk mencapai tujuan perdamaian dunia itu. Masalah bagaimana hal tersebut bisa dicapai, ya memang yaaaaa susah buk. Tapi, PBB sendiri juga sudah mengalami berbagai reform yang patut kita kasih atensi dan tepuk tangan juga. Salut sih, dengan mereka yang beneran mencurahkan segala perhatian dan waktunya untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik. Apalagi orang-orang yang pernah menjadi Secretariat General PBB! Maksudnya, in a way, porsi beliau di dalamnya itu yaaa nggak besar-besar amat kan, apalagi kalau dibandingin sama the P-5 alias negara-negara tetap dalam DK PBB. Hayo, masih inget, negara apa aja? Nah, tapi mereka tetep mau gitu jadi SecGen di tengah berbagai keruwetan yang ada di dunia ini. Ku salut! 

Wednesday, 21 March 2018

Belajar apa hari ini? Asian Values and Democracy

Halo, haloo
sebagai mahasiswa yang kurang pandai membagi waktu (untuk menyenangkan diri sendiri dan untuk belajar atau mengaktualisasikan diri) please bear with me bahwa hal-hal yang akan kushare disini sebagian besar adalah apa yang kudapatkan di kelas ya he he he. Mau nyari topik lain sudah ku lelah, nanti ujung-ujungnya malah curhat-curhat nggak penting. 
Karena, 1. Udah pasti aku reading jadi ngerti lah ya ini ngomongin apa, 2. Kalaupun lagi nggak reading, topiknya, kan dibahas di kelas yah, jadi... aku kurang lebih juga paham lah ya (alasan, iya..)

Semester terakhir ini aku ambil 3 kelas selain disertasi: Nuclear Non-proliferation, UN Peace& Security, dan Asia-Pacific Politics. 
Baiklah, mari kita mulai pointers-pointers dari hal-hal yang aku pelajari hari ini, kelas Asia Pacific Politics! 

Di kelas ini, kami dapat bahasan mengenai Asian values dalam kaitannya dengan model-model development negara-negara di Asia. Referensi utama kami ada 2 esai, yang pertama adalah wawancara Foreign Affairs dengan Bapak Lee Kuan Yew, dan yang kedua adalah esai yang ditulis oleh Bapak Kim Dae Jung sebagai "balesan" terhadap argumen yang disampaikan oleh Pak LKY. Bapak Lee Kuan Yew adalah Perdana Menteri pertama di Singapura, dan Bapak Kim Dae Jung adalah presiden Korea Selatan pada masa pemerintahan 1998-2003. (Sila klik link artikelnya ya, kalau iseng ingin membaca, menurutku mereka light reading, nggak rumit bahasanya pun, alhamdulillah)

Argumen yang diberikan oleh LKY adalah, bahwa Asian values memegang peranan yang sangat penting dalam bangkitnya bangsa-bangsa Asia. Beliau bahkan sedikit mencibir mengenai pembangunan ala Barat yang mengedepankan individual rights atau kebebasan individu yang dapat menganggu tatanan sosial. Sehingga, menurut LKY, pembangunan ala Barat tidak sesuai untuk diterapkan di bangsa-bangsa Asia. He is saying that, in the West, they have "too much" democracy, and "too many" individual rights". Bila ditelisiki, beliau mengacu kepada suatu bentuk sistem politik Confucian system yang dahulu diterapkan di Cina, yakni tributary system dari unit-unit terkecil  (kerajaan2 di Korea, Jepang) kepada sebuah umbrella besar, yakni kerajaan di Tiongkok dimana Tiongkok sebagai sebuah kerajaan besar tidak akan mengganggu/ mengancam kerajaan-kerajaan kecil tersebut, as long as they know their place, yakni mereka tetap memberi tribute atau upeti! Asian values yang dikatakan oleh LKY meliputi: kebiasaan untuk bekerja kelas, kepedulian terhadap keluarga dan sistem masyarakat, kebiasaan untuk menabung, dan beberapa hal lainnya. Dengan values masing-masing individual seperti inilah yang kemudian menjadikan negara-negara di Asia (utamanya di Asia Timur) dapat maju seperti sekarang ini. Pak LKY meng-assert bahwa, culture is our destiny

Di sisi lain, Bapak KDJ me-rebutt argumen dari Pak LKY. Bahwa, Asian values adalah kedok di balik authoritarian system yang diberlakukan di negara-negara yang memberlakukannya. Semisal, Cina dan Singapura. Dalam melihat case runtuhnya USSR, misalnya, Pak KDJ tidak melihat itu sebagai the triumph of capitalist over communist, bur rather, it is the case of democracy over dictatorship. Hmmm menarik. Beliau kemudian juga mencatut beberapa hal dalam Confucian system yang sebenarnya mendukung terciptanya sistem demokrasi di negara-negara Asia, apabila memang Pak LKY mengacu kepada sistem tersebut. Frasa "great peace under heaven", yang menjadi salah satu penyokong Confucian values ini mengacu kepada suatu bentuk sistem yang berkeadilan, yang dapat dicapai dengan sistem demokrasi yang mengedepankan transparansi. Intinya, Pak KDJ bilang, tidak baik apabila kita mengkambinghitamkan sistem demokrasi ala Barat dengan argumen bahwa dia tidak sesuai dengan tatanan masyarakat Asia, bahwa bahkan terdapat values-values yang dapat digunakan dan dibawa untuk menyokong terciptanya demokrasi yang lebih baik. Bahwa, culture is not destiny, but democracy is. 


Which side are you, then? 

Untukku, personally, dan dengan kapasitas pemahaman sampai saat ini, saya lebih setuju kepada Pak KDJ bahwa values yang disampaikan Pak LKY kurang lebih merupakan sebuah pembenaran dari sistem pemerintahan otoriter yang beliau terapkan di negaranya. Akan tetapi, di sisi lain, agak setuju juga sih sebenarnya bahwa sistem demokrasi ala Barat tidak akan selalu tepat untuk diterapkan di berbagai pemerintahan di dunia ini. Ada beberapa hal sebenernya yang menarik, tapi aku juga nggak tahu jawabannya, jadi mungkin ada yang tertarik untuk berdiskusi?
1. Sistem pemerintahan otoriter, menciptakan kemakmuran? Contohnya, Singapura dan Cina. (Tapi, di sisi lain, kita melihat kasus pelanggaran HAM, dan yang kelihatan dari 2 negara ini adalah, adanya kesenjangan dalam pendapatan? the closest ones to the authorities will be best served)
2. Kegagalan upaya pembangunan negara-negara di Afrika pasca dekolonisasi, apakah karena mereka tidak share Asian values seperti masyarakat Asia? (Aku nggak begitu paham tentang area Afrika, sih, tapi aku yakin bahwa ada hal-hal lain yang mempengaruhi ini)

Demokrasi memang bukan panacea alias obat untuk segala-gala penyakit yang ada dalam sebuah negara, baik dalam sistem pemerintahan ataupun sistem kemasyarakatannya. Akan tetapi, nilai-nilai yang ada dalam sebuah sistem demokrasi, terutama nilai transparansi dan keadilan, menurutku adalah hal penting. 

Oh iya, satu hal yang aku dapat dari membaca kedua tulisan ini, baik KDJ dan LKY, keduanya sama-sama ngomongin 1 hal yang sama, Asian values, tapi bagaimana si Asian values ini kompatibel dengan demokrasi, keduanya punya pendapat yang sangat berbeda. 
Dua-duanya sama-sama pintar. Keduanya sama-sama membawa negaranya ter-develop menjadi negara yang lebih baik dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya. Tapi,
1. Pak KDY men-deliver ketidaksetujuannya dengan ELEGANCY. Hahaha, aduh ini udah mulai pake bahasa-bahasa alayku. Maksudnya, ya doi bisa nulis gitu, padahal by the time dia nulis, beliau juga belum jadi presiden South Korea, dan tidak se-senior Pak LKY (yang udah jadi PM Singapura duluan).
2. Berangkat dari satu set hal yang sama, Confucian system, Pak LKY bisa pick hal-hal yang dia anggap klop dengan kemajuan pemerintahan Singapura, begitupula Pak KDJ, beliau bisa mem-pick hal-hal yang menurut beliau menyatakan bahwa Asian values itu sejalan dengan demokrasi.

Sama halnya dengan debat-debat yang sering terjadi dewasa ini (((dewasa ini))), paling gampang buat yang muslim, adalah tentang Al Quran dan penafsiran akan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Gampang sekali buat masing-masing kita untuk cherry picking ayat atau penafsiran yang kita anggap sesuai dengan pemikiran kita, untuk menganggap sesuatu itu benar. Karena, seringnya di agama kan yang ada, adalah benar atau salah ya. Either you are with us, or you are with them.
Jadi, akan lebih baik apabila kita..... banyak-banyak refleksi, apakah kita selama ini juga "menggunakan" ayat-ayat tertentu untuk pembenaran tindakan kita dan melupakan isi the whole kitab suci? Meng-ignore ajaran-ajaran lain yang tidak sesuai dengan pandangan kita sebagai individu?\

Kedua, apabila kita mau me-rebutt suatu argumen yang kita tidak setujui, kita harus bisa elegan seperti Pak KDJ! Nulis, pakai fakta dan argumen yang logis dan reasonable. Sedih sih, kalau sekarang, kita melihat bahwa debat netizen isinya kosong, yang penting paling keras aja ngatainnya. Huft. 

Oke, sekian curhat dan belajar nulis hari ini. Semoga bermanfaat buat yang membaca! 

Tuesday, 20 March 2018

Cerita Lolos Beasiswa LPDP (Part 2)

Akhirnya, bakalan saya lanjutin juga bagaimana kelanjutan dari Seleksi Administrasi LPDP.
Sebenarnya, nggak tau juga sih apa ada yang baca blog ini atau enggak, tapi kan yakali ajaa ada yang nyasar saat butuh info tentang LPDP. Yagaaaak, iya deh. Amin.

Jadi, setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi (akan diberitahukan melalui email), maka beberapa waktu setelah itu kamu akan diberi jadwal kapan dan dimana seleksi substansimu akan diadakan (ingat, kamu udah milih preferensi tempat tes sedari awal, jadi jangan heboh bingung kok tiba-tiba ditempatin dimana/disana, karena plis...remember what you did!)

Oiya, seleksi substansi ini meliputi :
1. Wawancara
2. Focus Group Discussion
3. Essay on the spot

Sejak tahun 2016, bagi pendaftar yang melamar untuk tujuan kampus luar negeri, ketiganya akan dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris.
Nah, berikut cerita saya waktu menjalankan seleksi substansi. Tanggalnya.....errr lupak! wkwk
Yang jelas, waktu itu seleksi substansi saya dilakukan dalam waktu 2 hari. Hari pertama adalah untuk Essay dan FGD, dan hari kedua untuk Wawancara. O iya, biasanya akan ada 3 hari waktu tes di setiap test center. Kebetulan, saya mendapat di hari kedua dan ketiga, jadi hari pertama tes saya adalah pada hari kedua tim LPDP mengadakan seleksi substantif di Yogyakarta (bingung nggak? haha jangan bingung! cermati lagi! wkwk)
Tes substantif dilakukan di Gedung Kementerian Keuangan? atau ya, kalau tidak salah Gedung Keuangan Negara Yogyakarta, di daerah Jalan Kusumanegara. Begitu datang, siapkan semua persyaratan administrasi yang telah sebelumnya kamu upload untuk diverifikasi oleh tim LPDP, dan bawalah semua dokumen yang ASLI. Ijazah, SKCK. Sertifikat IELTS/TOEFL, form aplikasi, dll. Waktu itu saya agak bingung kayak, kenapa harus asli sih, kan medeni ya kalau-kalau ilang atau rusak gitu gara-gara dibawa-bawa. Tapi tau nggak, ternyata ada lho beberapa orang yang memalsukan dokumen-dokumen seperti itu supaya bisa lolos. W-O-W. Ini kekagetan yang bercampur sedih dan miris. Gila ya, ijazah dipalsu. Ada pula sertifikat IELTS dan TOEFL yang palsu. W-O-W lagi.

Setelah melakukan verifikasi, akan dipanggil serentetan nama untuk mengikuti tes. Ini harus ngeh sih, jangan sampe bikin emosi panitianya karena kamu ngelamun pas dipanggil atau simply gak ngeh wkwk.
Akhirnya, namaku dipanggil untuk masuk ke grup (kalau ga salah) 13A. Ini grup FGD, sekaligus rombongan yang akan satu ruangan untuk mengerjakan essay. Waktu itu, grup kami mengerjakan essay terlebih dahulu baru kemudian berkumpul untuk FGD. Waktu penulisan essay seingat saya tidak begitu lama, kurang lebih 30-45 menit. Oleh karena itu, kalau udah ngeh sama pertanyaan essay, langsung tulis! Haha. Ga usah kelamaan kontemplasi, apalagi kalau kamu nulisnya lamakkk!
Setelah itu, baru FGD. Kelompok saya terdiri dari sekitar 10an orang kalau saya tidak salah ingat yaaa hehe *makanya abis tes langsung bikin catetan, trev* dari berbagai disiplin ilmu. Seingat saya, waktu itu mayoritas memiliki latar belakang sains, yang ilmu sosial hanya ada 3 orang termasuk saya. Tema FGD saya waktu itu adalah kebakaran hutan di Riau. Hmm cukup umum, ya? Tapi kalau untuk tes FGD, dengan berbagai kepala yang tentunya, memiliki ambisi sama untuk mendapatkan beasiswa? Well, pasti akan ada yang berusaha mendominasi, akan ada yang kurang terlihat, dan lain-lain...atau ada yang standar aja, seperti saya yang ga paham istilah-istilah sains yang beberapa lontarkan tapi ikutan senyum setuju dan nambahin itty-bitty aja *cry banget kalo inget FGD*.

Sepulang hari itu, saya pasrah. FGD saya kayaknya ga oke-oke amat, essay pun sepertinya agak ngambang.

Besoknya, saya dapat giliran wawancara paling pagi! Jam 8 pagi kalau enggak salah, atau jam 9 ya? *lagi-lagi lupa*. Nah, ini yang cukup unik. Biasanya, kita akan dihadapkan dengan 3 orang pewawancara yang katanya akan terdiri dari 1 orang psikolog, 1 orang mewakili lpdp, dan 1 orang akademisi dari bidang ilmu yang akan kita tuju. Tapi, entah mungkin saya sedang beruntung, saya hanya diwawancarai oleh 2 orang. Wawancara saya juga cukup santai, bahkan ketika mengatakan saya sedang magang di Pusat Studi Jerman, Bapak pewawancara langsung antusias "Sprechen Sie Deutsch?" yang langsung kujawab dengan ngasal, "Ja, Ich spreche ein bischen Deutsch, zum A-1 level" - gatau artinya bener apa enggak, tapi sekiranya ngomong kalau baru belajar dikit, masih level A1. Ibu pewawancara, yang kayaknya psikolog, malah nanya "Kalau misalnya kan sekarang ga punya pacar, terus ntar kecantol sama orang sana terus ga mau pulang gimana?" yang kujawab dengan enteng "Saya nggak suka bule, bu hehe" teruuuus tapi ibunya nantangin, "yang disana kan nggak cuma bule, kalo dapet diplomat gimana?" ---sebenernya dalam hati ingin berkata AMIN dan Like 100000x ---- tapi harus dengan profesional menjawab, "Sebenarnya masih belum ada pada rencana saya sih untuk menikah dalam waktu dekat, tapi sekiranya sudah selesai studi, ya saya harus balik ke Indonesia sesuai dengan apa yang saya janjikan untuk LPDP". Yah, begitulah.

Begitu keluar, teman-teman saya yang satu waktu pas masuk ke ruang wawancara masih belum keluar. Ternyata, kata mereka, banyak pewawancara yang rasanya cukup memberikan pressure, menanyakan tentang rencana riset, meragukan kemampuan mereka untuk melakukan riset, dan lain-lain. Langsung aja aku merasa.....zzzziiing. Kok, aku ditanyainnya selo banget, ya? Apa karena pewawancaranya udah bosen? Atau karena emang aku gabisa digali? Wah! pokoknya langsung parno! Soalnya, aku nggak disinggung sama sekali tentang rencana riset, maupun misalnya, hal-hal yang akademik banget yang precil-precil tentang HI gitu.

Sekali lagi, saya pulang sambil deg-degan dan heboh di Pusman, saya lolos gak ya.......kok wawancaranya selo banget.

Dan ternyata, beberapa waktu kemudian,
saya dapat email, dan Alhamdulillah,
dinyatakan LOLOS.


Jadi, buat kalian yang menanyakan : Kok bisa sih Trev, lolos LPDP?
Tipsnya apa sih, yang kamu pikir bisa bikin kamu lolos buat LPDP? Gimana sih, biar aku juga bisa lolos LPDP?

Teman, sesungguhnya saya enggak tau. Kalo dilihat di seleksi substansi ini, nggak ada satupun tahapan yang saya yakin 100%, kayak..ah, aku udah oke nih di esai, lolos lah pasti...atau semacam itu. Yang ada, begitu tiap selesai satu tahap........lemes, kayaknya bakalan ngulang nih. Mampus. IELTSnya cuma buat 2 tahun pula. Asem.
Yagitu.

Tapi sih, mungkin yaaa mungkin ini beberapa tips buat seleksi yang kayaknya nih temen-temen saya yang lolos bentukannya begini-begini juga :
1. Jadi diri sendiri, eh kalau bisa sih malah jadi the best version of yourself! Pokoknya gausah fake, kamu lagi wawancara sama psikolog.
2. Beri kesempatan orang bicara atau kasih pendapat, saat FGD. Jangan terlalu mendominasi *kayaknya sih gitu*. Kalau ngomong, jangan ngasal pokoknya urun rembuk tapi ga ada isinya.. Ya sepik-sepik boleh, tapi yang mutu dan bermanfaat!
3. Pelajari pelajari pelajari pelajari banget apa yang kamu udah submit buat seleksi administrasi. Baca esaimu, baca lagi study planmu, baca riset apa yang akan kamu tekuni.
4. PEDE! Bikin orang yang seleksi itu yakin kalo mereka harus milih kamu, or its their loss if they chose not to. Pede bukan berarti sombong atau arogan ya. Humble-humble brag dikit gitu lahh wkwk asem aku ngajarin apaan nih kok jadi ga bener wkwk
5. Pakai pakaian yang rapi, sopan, bersepatu, tapi tetap nyaman. Yah ini agak common sense sih, tapi cobalah terlihat oke di hadapan para juri. Walaupun outfit gak mahal-mahal amat, tapi kalau bersih dan rapi kan jadi OK dan bisa kasih first impression yang juga OK.

Hmm kayaknya sesimpel itu aja sih, yang aku tahu. If there's more to add, aku akan kasih tambahan di waktu-waktu berikutnya.
Dan,
Semoga yang baca sukses LPDP (yang mau daftar aja sihh haha)! Like dan komentar Amin di postingan ini. Hahahahaha. AMIN.

Cerita Lolos Beasiswa LPDP (Part 1)

Halo, blog! 
Untuk post pertama, aku kepikiran untuk mem-post sesuatu yang lumayan sering banget ditanyain sama orang-orang. Kan, lumayan, kalau ada yang tanya sekarang bisa ngasih link blog ini. Gimana, sih, caranya biar bisa lolos beasiswa LPDP kemarin? 

Disclaimer : Mekanisme seleksi bisa jadi berubah setiap tahunnya, aku hanya share dari edisi 2015 ya which is udah agak jadul sih hehe tapi secara general mungkin akan ada tahapan-tahapan yang sama. 


Tahun 2015 lalu, aku sempet magang di sebuah pusat studi di UGM, sebut saja PUSMAN UGM haha. Nah, karena satu dan lain hal kesibukan di PUSMAN, yang sebenernya juga ga sibuk-sibuk amat *intinya lebih karena aku procrastinator aja sih* *self-getok kepala*, aku baru daftar LPDP untuk batch IV di tahun 2015, which is adalah batch terakhir di tahun tersebut yang jatuh pada bulan Oktober 2015.

Nah, in general, tahapan dari pendaftaran beasiswa LPDP ini seleksi intinya ada 2 :
1. Seleksi Administrasi
2. Seleksi Substansi; yang meliputi : Interview, Menulis Esai on the spot, dan Leaderless Group Discussion

Setelah dinyatakan lolos seleksi Administrasi (yang akan diumumkan melalui email masing-masing), berikutnya kamu akan diberikan jadwal untuk Seleksi Substansi yang akan diselenggarakan di kota tempat ujian pilihan kamu. Nah, baru setelah seleksi substansi kamu dinyatakan lolos, maka kamu akan ikut sebuah acara seru selama seminggu yang namanya adalah Persiapan Keberangkatan atau yang biasa disingkat PK, dimana kamu bakalan dipertemukan dengan buanyak orang dari seluruh Indonesia, dari berbagai lapisan umur *ya tapi ngga sampe tua-tua banget juga sih*, dan berbagai profesi. Pokoknya such an experience! 

Oke, in general gitu sih. Berikut aku kasih ringkasan untuk printilan-printilan yang ada di atas, 

1. Seleksi Administrasi
Seleksi administrasinya sendiri udah internet-based, jadi silakan langsung mendaftar saja melalui website lpdp disini dan membuat akun untuk pendaftaran kamu.
Sebelum kamu mengisi akun tersebut, pastikan ya sudah memahami mengenai apa itu beasiswa LPDP, Persyaratan, dan lain-lainnya yang infonya dapat dilihat juga melalui website LPDP Kemenkeu. Jangan lupa juga untuk mengunduh User Manual di laman pendaftaran tadi, ya! Berguna banget. Kayak kalo beli mesin cuci kan gimana cara pakenya kita lihat manual, ya sama gitu, gimana cara ngisinya disitu sudah dijelaskan dengan rapih.

Note : Untuk isian universitas tujuan, pastikan kamu isi dengan nama universitas tujuan yang emang akan kamu pilih (bukan coba-coba di awal), karena setelah kamu pilih, klik, dan kamu mulai isi data personal, nama universitas pilihan tadi ga bisa diganti! *pengalaman pribadi*. Daripada harus mulai bikin akun dari awal lagi, mendingan tetapkan hatimu sedari awal, gan! 

Dalam akun yang kamu buat tersebut, akan ada beberapa hal yang harus diisi dan cukup detail mengenai berbagai hal, baik akademis maupun non-akademis, kamu juga harus mengunggah beberapa dokumen (yang agak ribet adalah SKCK dan beberapa surat keterangan terkait status kesehatan), Surat Rekomendasi, Study Plan, dan menulis Esai (kalau nggak salah, temanya mengenai Sukses Terbesar dalam Hidup)

Note : 
Pertama, Persiapkan semuanya dengan baik, bahkan kalau perlu dari jauh-jauh hari!
Ini terutama adalah untuk SKCK (kalau kamu anak kos dan domisilinya jauh dari kampus, luangkan waktu untuk mudik dan mengurus SKCK). Buat kamu yang domisilinya di Kabupaten, misalnya, plis luangkan waktumu untuk urus ini apalagi kalau pengurusan SKCK di Polres Kabupatenmu ada di daerah yang cukup jauh *seperti saya misalnya, dari Sengkaling ke Kepanjen--kabupaten Malang*. Untuk SKCK sendiri pun syaratnya cukup melelahkan karena harus minta surat pengantar mulai dari Pak RT, RW, Kecamatan, sampai Pak Polisi di Polsek, serta Koramil (seharian muter, nambah biaya ya 7-10ribu uang rokok lah per-instansi.. Ckckck padahal harusnya gratis tuh). Ah iya, Tidak akan ada opsi untuk mengunggah SKCK tersebut karena baru akan kamu bawa saat hadir pada seleksi substansi *ditunjukkan kepada panitia*. 

Kedua, penting juga meluangkan waktu untuk mengurus surat-surat terkait kesehatan (Bebas TBC, Bebas Narkoba, dan Keterangan Sehat). Pengalamanku kemarin, LPDP mewajibkan surat tersebut dikeluarkan oleh Rumah Sakit Pemerintah, dimana rumah sakit milik pemerintah ini kebanyakan sangat ramai dan pelayanannya nggak bisa secepet Medical Lab swasta *Sad but true*. Luangkan paling tidak 2-3 hari untuk bolak-balik Rumah Sakit *pengalaman*. Oh ya, kuatkan fisik juga kalau misalnya RS tersebut luas, karena jarak antarpoli yang biasanya cukup jauh, ditambah harus ke kasir, dll....jadi kowe kudu kuat! 

Ketiga, untuk menghemat biaya medical check-up yang ternyata tidak sedikit tersebut, bisa survei cari RSUD yang cukup 'mblusuk' (tapi memiliki layanan medical check up yang dibutuhkan juga sih) daripada di Rumah Sakit besar yang biasa jadi jujugan dari daerah-daerah lain. Kenapa? Satu, biasanya lebih sepi. Kalau di RS besar, misalnya, RSUD Sarjito tempat aku kemarin check up, ramenya Masya Allah. Sedangkan di RSUD lain, i.e. RSUD Wirobrajan, cenderung lebih sepi. Dua, biayanya lebih murah! Untuk rangkaian tes yang sama, aku mengeluarkan biaya sekitar +/- Rp 800,000 di RSUD Sardjito, sementara seorang temanku yang lain hanya perlu mengeluarkan biaya sekitar +/- Rp 400,000-500,000 di RSUD Wirobrajan atau RSUD Sleman. Lumayan, kan? 


Untuk Study Plan, akan lebih asik apabila kamu bisa menulis rencana studi kamu dengan detail. Hal tersebut bisa memperkuat aplikasi kamu (sepertinya sih gitu), karena akan memberi kesan bahwa : anak ini udah niat banget dan tahu dia mau belajar apa! In my case, study planku juga memuat mata kuliah apa saja yang akan aku ambil, kenapa aku harus ambil jurusan dan makul itu, beserta rincian biaya perkuliahan dan biaya hidup untuk masa kuliah.

Mengenai Esai, sebenarnya beberapa kali kan aku juga ikutan baca esai untuk seleksi-seleksi gitu ya, dan rasa-rasanya lho ya...yang terpenting adalah orisinalitas ide yang kamu punya, serta kontennya apakah sesuai dengan nilai-nilai dari pemberi beasiswa yang kamu tuju. Karena aku yakin, setiap orang bisa menginterpretasikan tema tersebut dengan pemikiran masing-masing, tapi kan ya bosen kalau misal isinya sangat normatif dan tidak detail (tidak me-relate dengan contoh nyata dari kehidupan pribadi si penulis), atau misal tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut pemberi beasiswa. Contoh nih, misalnya mengenai Sukses terbesar dalam hidup...dan kamu menulis bahwa sukses terbesar itu adalah ketika sekarang kamu sudah kaya, bisa jalan-jalan ke luar negeri, koleksi tas desainer terkenal, dan makan-makan cantik di restoran lucu....Nah. Iya sih, it could be your definition of success, tapi kan Duniawi dan self-centered banget gitu lhooo...dan merupakan sebuah contoh kesuksesan yang tidak memberikan nilai lebih pada orang lain atau lingkungan sekitarmu-- yang mana, biasanya merupakan nilai-nilai yang akan dilihat dari pemberi beasiswa. Aku yakin sih masing-masing orang pasti punya kisah suksesnya masing-masing yang oke, kadang kamu perlu mikir agak lama aja sih.

Oh ya, untuk esai dan study plan tadi sangat membantu sekali apabila kamu punya seorang proofreader yang bisa baca ulang esai dan study plan kamu, sehingga apabila ada kesalahan, atau misalnya seperti tadi--esainya kurang 'bernilai', maka akan ada orang yang membantu kamu untuk menyadari kesalahan itu. Syukur-syukur ikut urunan ide supaya esai dan study plan kamu bisa jadi lebih cantik! 

Untuk Surat Rekomendasi, aku rasa tiap-tiap orang berbeda juga sih. Kemarin aku hanya melampirkan 1 surat rekomendasi (Dari dosen penguji skripsi), sementara temanku ada yang melampirkan 3 surat (dari instansi, pemerintah, akademik...pokoke josss deh), dan kami sama-sama lolos. Sepengetahuanku, yang diwajibkan adalah 1 surat rekomendasi, kalau ada banyak gitu bisa jadi bahan pertimbangan dari juri dan panitia seleksi mungkin, ya? Oiya, mungkin kalau bisa juga rekomendasi yang diberikan (misal dari dosen/akademisi), orang yang merekomendasi tersebut paling tidak memiliki gelar  yang lebih tinggi dari jenjang yang akan kita pelajari. Misal kita mau studi S2, maka sepertinya lebih oke kalau misalnya dosen yang sudah bergelar PhD atau bahkan Profesor-lah yang memberikan rekomendasi. 

Overall, itu adalah beberapa hal yang aku rasa perlu di high-light dari dokumen-dokumen yang diperlukan sih. Untuk hal-hal lain seperti transkrip, ijazah, sepertinya tidak perlu ada yang diberikan *note hahaha. Oke, itu dulu Part I-nya tentang Seleksi Administrasi. Dikit aja sih dari aku, karena banyak blog yang membahas lebih luengkaaap, silakan digoogle dengan kata kunci favorit anda! Haha

Mengapa menulis?

Halo,
Namaku Trevi dan aku sedang belajar untuk menulis.
Aku sudah memiliki beberapa tulisan sebelumnya yang belum pernah kupublish atau dibagikan secara umum, makanya jangan kaget kalau dalam sehari aku bisa mem-publish beberapa post (karena tulisan-tulisan itu sudah ada di komputer, tapi tidak pernah dibagikan! hehe)

Kenapa mau menulis untuk sebuah blog yang bersifat publik?
Sederhananya, aku ingin memiliki sebuah platform untuk berbagi tulisan dan pemikiran saya (yang saya tau pasti super random sih sebenarnya), yang sekiranya bisa bermanfaat untuk lebih banyak orang. Isu yang kutulis mungkin sebagian besar akan menyentil isu-isu hubungan internasional (karena aku mahasiswa HI hehehe) ataupun fenomena sosial lainnya (atau mungkin malah curhat receh). Kalau sekiranya teman-teman ada yang ingin saya berbagi suatu cerita khusus, tolong beritahu ya!

Feel free untuk nimbrung, komentar, dan berdiskusi lucu di kolom komentar ya.

Salam kenal semuanya, semoga aku bisa menulis dengan baik dan berbagi hal-hal bermanfaat di platform ini!