Oke, haloo semuanya! Trevi bikin post lagi! *ini beneran masih anget-anget tai ayam, rajin amat ngepost* kita lihat sebulan lagi.... ha-ha-ha
Oiya, teman-teman yang mau melihat bentuk kerjaan saya selain dalam bentuk tulisan, sa juga punya akun instagram yang isinya adalah hasil-hasil gambaran tangan saya baik dengan menggunakan media manual (kertas, spidol, cat air dkk) maupun digital. Silakan kunjungi @trevidraws ya! Emang anaknya lagi suka bikin cem-macem platform, jadi jejak digitalnya dimana-mana nih.... Eh, tapi menurutku itu lumayan penting loh. Buat aku, yang mau belajar menggambar dan menulis, dengan adanya atensi dari orang-orang di sekitar, membuat aku jadi lebih semangat untuk terus bikin hal baru atau eksplorasi cara menggambar ataupun. Teruuus, karena tersimpan di platform digital, jadi semacam ada back-upannya gitu kaaan, dan pada suatu ketika, kita bisa lihat progress kita dalam hal-hal tersebut, buat aku ya, dalam hal menulis maupun menggambar. Tapi genggesnya emang bagian jejak digital dimana-mana itu, sih, jadinya gagal menjadi anak antimainstream yang cool dan hanya bisa direach melalui hubungan personal. HUFT *ini adalah cita-cita sejak kuliah, tapi beneran hanya jadi angan-angan, anaknya terlalu heboh dan semangat menggunakan sosial media* -_-
Lanjut, ke topik utama, kali ini postingan tentang pelajaran hari ini, yaitu UN Peace and Security.
Intermezzo, ya, awalnya saya sebagai anak yang ngaku-ngakunya super-realis dalam melihat hubungan internasional, pesimis dan ogah-ogahan mau ambil kelas ini yang super-cinta perdamaian. Kalau di International Security, kita dicekokin bahwa war is unavoidable, dan sebenernya war is a cycle dst dst sementara di kelas-kelas Studi Perdamaian, kami jelas akan berfokus untuk menciptakan perdamaian dan menyelesaikan, bahkan mencegah adanya kemunculan konflik.
Satu hal yang aku senangi dari kelas ini adalah, kami banyak sekali mendapat guest lecture yang memang bekerja dalam bidang ini. Sesuatu hal yang keren, sih, karena kami tidak hanya mendapatkan insight dari kelompok akademis, tapi juga para praktisi yang terjun langsung di lapangan. Minggu ini, kami kedatangan seorang jenderal, namanya Pak Tim Ford. Beliau pernah memimpin beberapa operasi penjagaan perdamaian atau peacekeeping operation (PKO) di beberapa belahan dunia, termasuk di antaranya, ia terlibat PKO di Timor Timur yang digadang-gadang menjadi contoh salah satu PKO yang sukses (meskipun harus mengalami hingga 5 kali pergantian misi).
Jadi, PKO sendiri sebenarnya nggak ada tuh di dalam UN charter yang tertulis jelas PKO, gitu. Sila cek UN Charter di webnya langsung, ya! Tapi, dia masuk ke dalam lingkup kegiatan UN yang berada di Chapter VI dan VII. Jujur, ya, selama ini ketika mendengar kata-kata PKO, yang aku bayangkan hanyalah mas-mas tentara Indonesia yang gagah dan memiliki hati mulia, gitu. Bahkan aku inget salah satu temanku, sebut saja Miss Nano, punya cita-cita untuk menikah dengan tentara yang terlibat di PKO! HA HA.... masa-masa itu...
Nah, ternyata pada praktiknya, PKO itu cukup njelimet ya guys. Hmm, ada banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum UN dapat memberikan mandat kepada pasukan PKO. Tapi sih, emang yang menurutku (sekali lagi menurutku aja ya), paling penting, ada tiga poin: persetujuan dari UNSC atau bahasa Indonesianya, Dewan Keamanan PBB, consent atau kesediaan dari negara yang akan dikirimkan PKO, dan ini nih... is there any peace to keep at the first place. Dan, tantangannya pun ada banyak sekali, semisal nih, aku baru tahu bahwa budget untuk kegiatan PKO di PBB ini super minthik cilik sekali, yaitu sekitar US$ 8 billion per-tahun (kalau nggak salah quote, yah... tapi seingatku sekitar ini kata beliau). Sangat-sangat mepet untuk sekitar 15 aktivitas PKO yang sedang dilakukan PBB saat ini. Jadi, negara-negara pengirim PKO pun ujung-ujungnya jadi sering rugi gitu sih dari segi finansial dengan mengirimkan tentara-tentara keamanannya untuk misi PKO, karena kan mereka harus melakukan training, menyediakan persenjataan untuk keamanan, biaya hidup, dan lain-lain... (kemudian membayangkan jadi istri tentara PKO, menjadi tidak bahagia lagi....hahahaha)
Di lapangan pun, tentara-tentara PKO ini juga harus mampu melaksanakan mandat yang diberikan, pun menjaga kredibilitas dan legitimasi mereka. Terkadang, di awalnya, pemerintahan negara tersebut sudah menyetujui adanya kegiatan PKO di negara mereka, akan tetapi, pada perkembangannya bisa jadi muncul militia-militia yang kemudian tidak mengakui atau bahkan mengecam keberadaan pekerja-pekerja dalam misi PKO ini. Hih. Runyam, kan. Mengenai penggunaan kekerasan, atau senjata, dalam misi PKO, perlu di-underline bahwa tentara PKO boleh menggunakan kekerasan, selama hal tersebut dilakukan untuk self-defence ataupun men-defend mandat yang diberikan dalam misi tersebut. Bahkan, si Bapak membawa sebuah brosur yang menjelaskan bahwa PK armies should use more force, karena di lapangan seringkali mereka di-undermine oleh kelompok-kelompok tertentu, macem apa yah, di tes kesabarannya gitu kali ya, yeee nggak boleh nembak kan luu, gitu. Jadilah, katanya beliau, pernah suatu saat kayak mereka macem diancem gitu, dianggap nggak punya persenjataan ataupun kemampuan untuk melakukan kekerasan, jadilah mereka meledakkan beberapa biji bahan peledak yang mereka miliki, as if saying, yeee kita juga punya senjata kalii, ga usah sok-sokan ngeledek! gitu.
Sejauh ini, dengan pola pikir yang awalnya sangat pesimis dengan kerja PBB, aku sering aja menghela napas... PBB mah dibikin Amerika aja biar doi juga ikut ambil bagian besar di dalamnya. Secara, awalnya doi nggak mau gabung kalau nggak dikasih hak veto pun. Akan tetapi, melihat bahwa benar-benar ada orang-orang di luar sana yang peduli dengan perdamaian dan mengusahakan supaya organisasi ini berjalan dengan baik, it WOW-ed me. At least, kita jadi tahu, PBB itu ada, dan mereka sudah berusaha untuk mencapai tujuan perdamaian dunia itu. Masalah bagaimana hal tersebut bisa dicapai, ya memang yaaaaa susah buk. Tapi, PBB sendiri juga sudah mengalami berbagai reform yang patut kita kasih atensi dan tepuk tangan juga. Salut sih, dengan mereka yang beneran mencurahkan segala perhatian dan waktunya untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik. Apalagi orang-orang yang pernah menjadi Secretariat General PBB! Maksudnya, in a way, porsi beliau di dalamnya itu yaaa nggak besar-besar amat kan, apalagi kalau dibandingin sama the P-5 alias negara-negara tetap dalam DK PBB. Hayo, masih inget, negara apa aja? Nah, tapi mereka tetep mau gitu jadi SecGen di tengah berbagai keruwetan yang ada di dunia ini. Ku salut!