Friday, 22 January 2021

dignity

yesterday i learn a lot about the word 'dignity'.

kadang kita pingin bantu orang,

pingin "ngebenerin" apa yang kita rasa salah, 

tapi di sisi lain orang juga harus kita hargai, mungkin dignity mereka akan ternodai dari upaya ekstensi bantuan yang dirasa berlebihan. 

sebuah catatan buat aku yang suka ikut-ikutan urusan orang.

Friday, 25 December 2020

 masih mencari label untuk perasaan saat ini.

sedih tapi lega.

Saturday, 26 September 2020

rasanya menjadi tahun yang paling banyak belajar. semoga bisa memulai pelajaran dan perjalanan selanjutnya dengan lebih ikhlas dan sabar 👏

Friday, 25 September 2020

 H-2 merayakan usia yang baru, hari ini aku sangat sangat melow. Banyak nangisnya.Moodnya berasa pingin nangis aja gitu, tapi somehow juga aneh karena sakit kepalanya jadi berkurang.Kayaknya nangis ngebuat rileks, atau setidaknya, membuat aku melepaskan tension yang ada.

Mungkin sudah tepat 6 tahun ya dari patah hati pertama yang membuat hidup jungkir balik. Kayaknya dekat-dekat hari ini juga deh dulu aku mengalami episode nangis seminggu dan tidak suka melihat diri sendiri karena aku merasa jelek.

Selama 6 tahun ke belakang, I was being so hard on myself. Mungkin not so much terkait pencapaian kerja ataupun akademis, tapi lebih ke bagaimana aku terlihat. Aku sangat insecure untuk tampil di depan publik, ngomong, ataupun mencoba menarik perhatian orang. Itu karena aku merasa jelek dan tidak worth. Siapa, sih, yang mau sama aku? Siapa, sih, yang mau dengerin aku? I hate my voice pitch and tone. I hate my body. I hate my skin.

Sungguh sebuah hal yang menyedihkan, menyadari bahwa selama ini aku punya hubungan yang tidak baik dengan diriku sendiri. At least, saat ini sudah disadari, sih. Padahal, ini rumah bagi diriku dan jiwaku sendiri, lho. Kalau ada yang nggak nyaman, itu yang datang dari diri sendiri yang perlu di-address. Kalau orang lain yang nggak nyaman lihat kita, padahal kita baik-baik aja (nggak menimbulkan kematian atau apalah), ya sudah itu urusan mereka. 

Proses healing dalam menerima diri sendiri buatku takes sooo long, ternyata. Bahkan belum selesai juga lho, sampai sekarang. Tapi, aku menikmatinya. Capek sih, nangis, sadar, nangis lagi etc etc. Tapi aku rasa itu fase-fase yang memang harus dijalani untuk unlock kejutan-kejutan lain ke depannya.

Buat kamu yang juga sedang belajar memahami dirimu sendiri, open up yourself and accept your limitation and weaknesses. Kita adalah versi terbaik Tuhan untuk diri kita. 

Wednesday, 9 September 2020

people do come for a reason, and left with a reason, too

reflecting on the recent development of my social life,

i think i can now better internalize that saying.

some people will only be there for some limited timeframe, and that's okay. you might meet them later, or not.

you can't make everyone stay. and that's okay. 

nonetheless, another advice "to be present, here and now", should also become something that we need to internalize.

because on that limited timeframe, we can appreciate lessons and experience that we get during the time we spend together. 

and when it's over, we won't be left with so much regret or anger or sadness. but also, appreciate good things that happened, and lessons that are learned.

not trying to help others is not always a bad thing. afterall, your biggest responsibility lies within yourself. 

you are responsible for your happiness. life is hard already, and no one can ever truly care about your well-being but yourself. 

Monday, 3 August 2020

030820: kalau sudah di atas dan punya power, jangan sengaja zolim sama orang. kalau sama-sama tau sedang sama-sama di posisi sulit, memudahkan urusan orang lain dng at least melakukan yang memang harus dilakukan, bahkan ga perlu extra measure. 

Tuesday, 26 May 2020

#15haribercerita: Tentang Makan

Pada dasarnya, saya ini orang yang suka makan dan jajan. Apalagi kalo makannya rame-rame, bawaannya emang pingin beli makanan banyak terus dibagi-bagi dan makan sambil ngobrol-ngobrol. Salah satu hal yang saya rindukan di masa pandemi ini adalah kebiasaan makan bareng itu. Rasanya aneh harus makan sendirian tanpa ada suara orang lain. Makan sambil nonton drama pun nggak asik karena ujungnya pingin liat drama dan ngebiarin makanannya unattended. 

Kebiasaan makan yang saya sangat sukai ketika saya ikut program pertukaran pelajar. Di rumah saya itu, semua orang harus makan bareng dari sarapan- lunch (kalo lagi libur dan ga ada sekolah)- dan dinner. Di satu meja, dengan utensils yang disiapin dengan rapi oleh anak-anak. Hal yang nggak banyak saya dapatkan di keluarga saya, dan kayaknya susah sih diaplikasikan. Paling mentok pas makan malam. Menurut saya, makan bareng itu hangat dan membuat komunikasi menjadi lebih lancar. Bayangkan saja semeja bertemu paling tidak sehari tiga kali. Meskipun ketika dinner ditanyai, "How's your day?" pasti anak-anak banyakan mager dan jawabnya cuman, "great", paling enggak kelihatan gitu emosi yang dipunyai masing-masing anggota keluarga pada hari itu. Kelak, saya mau berusaha punya kebiasaan yang sama ketika sudah berkeluarga. 

Saya juga punya toleransi yang rendah terhadap orang-orang yang makannya "ngecap" (?), mendengar bunyi aduan antara bibir dan lidah itu, membuat bulu kuduk saya bergidik. Adik saya seringkali saya marahi di meja makan karena saya gak suka dengar suara ngecapnya itu, "makan yang bener!". Saya nggak tahu kebencian ini bermula dari mana, sehingga saya bener-bener punya ketidaksukaan yang tinggi. Kalau di tempat umum, saya suka nahan-nahan nggak komen dan mengalihkan pandangan dan menahan diri. Kalau orangnya agak dekat, saya tanya, "kamu kalau makan mesti ngecap po?". Kalau lebih dekat lagi dan nggak ada perasaan takut kehilangan--sebagaimana saudara, atau udah deket banget-banget, baru saya berani bilang, "isssshh jangan ngecappp kalo makaan" dan di kasus adik saya, langsung marahin hehehe. Ini agak ngeganggu juga karena kadang orang-orang jadi ngecap karena struktur gigi dan mulutnya juga, sih (yang aku baru tahu), bukan karena dia malas menutup mulut. Tapii tetep aja aku geliiii banget, maaf yaaa.

Tentang makanan, saya suka masak kalau saya tahu akan ada yang makan selain saya. Jadi lebih semangat dan ingin memberi yang terbaik. Kalau yang makan saya sendiri, rasanya mager. Pertama, karena energi dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan misalnya, GoFood dari restoran, dan kedua, kembali ke atas tadi. Saya sukanya rame-rame! Hahaha. Apakah kelak saya pingin punya keluarga yang besar? Entahlah. Rasa-rasanya kalau membayangkan biaya pendidikan dan segala investasi yang harus dipikirkan, kayaknya sebaiknya tidak, sih. Terkait masak sendiri, saya merasa nggak buruk-buruk amat di bagian ini. I mean, saya tahu ada artis yang terang-terangan bilang nggak berani nyalain kompor. Jadi, untuk berani membuat beberapa cake, masak masak sayur dan bahan protein hewani yang edible, rasanya cukup bisa lah saya masak. Asal tersedia bahan dan bumbu yang baik. Kalo harus ngefix-in sebuah menu dengan bahan terbatas kayaknya saya menyerah sih hehe.

Saya akhir-akhir ini sering terpapar informasi terkait conscious diet/eating, di mana ketika kita memilih bahan makanan, kita sadar secara penuh terkait pilihan itu dan juga tidak mengonsumsi hal-hal yang bertentangan dengan nilai moral maupun bertentangan dengan tubuh kita sendiri. Di mana, hal tsb juga mencakup beberapa aspek lain seperti: source dari makanan tersebut, bagaimana ia diolah, disajikan, dan bagaimana kita mengonsumsinya. Di awal-awal terdengar sangat complicated ya. Awalnya aku antipati karena anzay sumanzay ribet amat ya, bun. Tapi kemudian, kalau dipikir-pikir lagi, ya, namanya berkesadaran itu penting. Dan, levelnya, nggak perlu ekstrim. Sesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Jangan karena selebgram A ga konsumsi gluten kemudian kita men-demonise gluten, padahal kita ga alergi. Atau, parahnya, gara-gara punya sugesti gluten itu jahat, kita malah growing intolerance towards it--not naturally, tapi adanya efek placebo dari konsumsi bahan tersebut. Kan gawat, ya. Beberapa hal yang kemudian aku lebih "tengerin" terkait konsumsi sehar-hariku:
1) nggak kuat minum susu banyak-banyak (diare)
2) nggak kuat pedes (diare juga)
3) nggak boleh kebanyakan gula
4) yoghurt, meskipun fermentasi, tetep kasih efek yang sama kayak susu
5) ga kuat kopi kalau belum makan berat, atau kopi di sore-malam hari (=die)
6) jahe pagi-pagi malah bikin sendawa terus (kayaknya lambung juga sih ini)
7) rutin jinten hitam+ sangobion= no PMS
8) aku lebih banyak minum air putih kalau di kantor karena pakai botol dan sambil ngetik sambil minum (apalagi kalo botolnya pakai sedotan)
9) aku suka pakai sedotan tapi katanya baiknya dihindarin karena bikin kembung (nyedot udara juga)


inilah hal-hal kesadaranku. nggak banyak sih, dan semuanya ujungnya sama, sakit perut dan diare! selama WFH, sering banget diare dan bertanya-tanya... kemarin w makan apaaaa sih kayaknya nggak pedes, oh iya minum chatime malam-malam. atau, ya, makan samyang... exposure yang semakin sedikit dengan makanan pedas (karena nggak jajan rame-rame) kayaknya membuat toleransi lidah dan perutku semakin cupu (but for good, karena i think my skin also thank me for that).