Pada dasarnya, saya ini orang yang suka makan dan jajan. Apalagi kalo makannya rame-rame, bawaannya emang pingin beli makanan banyak terus dibagi-bagi dan makan sambil ngobrol-ngobrol. Salah satu hal yang saya rindukan di masa pandemi ini adalah kebiasaan makan bareng itu. Rasanya aneh harus makan sendirian tanpa ada suara orang lain. Makan sambil nonton drama pun nggak asik karena ujungnya pingin liat drama dan ngebiarin makanannya unattended.
Kebiasaan makan yang saya sangat sukai ketika saya ikut program pertukaran pelajar. Di rumah saya itu, semua orang harus makan bareng dari sarapan- lunch (kalo lagi libur dan ga ada sekolah)- dan dinner. Di satu meja, dengan utensils yang disiapin dengan rapi oleh anak-anak. Hal yang nggak banyak saya dapatkan di keluarga saya, dan kayaknya susah sih diaplikasikan. Paling mentok pas makan malam. Menurut saya, makan bareng itu hangat dan membuat komunikasi menjadi lebih lancar. Bayangkan saja semeja bertemu paling tidak sehari tiga kali. Meskipun ketika dinner ditanyai, "How's your day?" pasti anak-anak banyakan mager dan jawabnya cuman, "great", paling enggak kelihatan gitu emosi yang dipunyai masing-masing anggota keluarga pada hari itu. Kelak, saya mau berusaha punya kebiasaan yang sama ketika sudah berkeluarga.
Saya juga punya toleransi yang rendah terhadap orang-orang yang makannya "ngecap" (?), mendengar bunyi aduan antara bibir dan lidah itu, membuat bulu kuduk saya bergidik. Adik saya seringkali saya marahi di meja makan karena saya gak suka dengar suara ngecapnya itu, "makan yang bener!". Saya nggak tahu kebencian ini bermula dari mana, sehingga saya bener-bener punya ketidaksukaan yang tinggi. Kalau di tempat umum, saya suka nahan-nahan nggak komen dan mengalihkan pandangan dan menahan diri. Kalau orangnya agak dekat, saya tanya, "kamu kalau makan mesti ngecap po?". Kalau lebih dekat lagi dan nggak ada perasaan takut kehilangan--sebagaimana saudara, atau udah deket banget-banget, baru saya berani bilang, "isssshh jangan ngecappp kalo makaan" dan di kasus adik saya, langsung marahin hehehe. Ini agak ngeganggu juga karena kadang orang-orang jadi ngecap karena struktur gigi dan mulutnya juga, sih (yang aku baru tahu), bukan karena dia malas menutup mulut. Tapii tetep aja aku geliiii banget, maaf yaaa.
Tentang makanan, saya suka masak kalau saya tahu akan ada yang makan selain saya. Jadi lebih semangat dan ingin memberi yang terbaik. Kalau yang makan saya sendiri, rasanya mager. Pertama, karena energi dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan misalnya, GoFood dari restoran, dan kedua, kembali ke atas tadi. Saya sukanya rame-rame! Hahaha. Apakah kelak saya pingin punya keluarga yang besar? Entahlah. Rasa-rasanya kalau membayangkan biaya pendidikan dan segala investasi yang harus dipikirkan, kayaknya sebaiknya tidak, sih. Terkait masak sendiri, saya merasa nggak buruk-buruk amat di bagian ini. I mean, saya tahu ada artis yang terang-terangan bilang nggak berani nyalain kompor. Jadi, untuk berani membuat beberapa cake, masak masak sayur dan bahan protein hewani yang edible, rasanya cukup bisa lah saya masak. Asal tersedia bahan dan bumbu yang baik. Kalo harus ngefix-in sebuah menu dengan bahan terbatas kayaknya saya menyerah sih hehe.
Saya akhir-akhir ini sering terpapar informasi terkait conscious diet/eating, di mana ketika kita memilih bahan makanan, kita sadar secara penuh terkait pilihan itu dan juga tidak mengonsumsi hal-hal yang bertentangan dengan nilai moral maupun bertentangan dengan tubuh kita sendiri. Di mana, hal tsb juga mencakup beberapa aspek lain seperti: source dari makanan tersebut, bagaimana ia diolah, disajikan, dan bagaimana kita mengonsumsinya. Di awal-awal terdengar sangat complicated ya. Awalnya aku antipati karena anzay sumanzay ribet amat ya, bun. Tapi kemudian, kalau dipikir-pikir lagi, ya, namanya berkesadaran itu penting. Dan, levelnya, nggak perlu ekstrim. Sesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Jangan karena selebgram A ga konsumsi gluten kemudian kita men-demonise gluten, padahal kita ga alergi. Atau, parahnya, gara-gara punya sugesti gluten itu jahat, kita malah growing intolerance towards it--not naturally, tapi adanya efek placebo dari konsumsi bahan tersebut. Kan gawat, ya. Beberapa hal yang kemudian aku lebih "tengerin" terkait konsumsi sehar-hariku:
1) nggak kuat minum susu banyak-banyak (diare)
2) nggak kuat pedes (diare juga)
3) nggak boleh kebanyakan gula
4) yoghurt, meskipun fermentasi, tetep kasih efek yang sama kayak susu
5) ga kuat kopi kalau belum makan berat, atau kopi di sore-malam hari (=die)
6) jahe pagi-pagi malah bikin sendawa terus (kayaknya lambung juga sih ini)
7) rutin jinten hitam+ sangobion= no PMS
8) aku lebih banyak minum air putih kalau di kantor karena pakai botol dan sambil ngetik sambil minum (apalagi kalo botolnya pakai sedotan)
9) aku suka pakai sedotan tapi katanya baiknya dihindarin karena bikin kembung (nyedot udara juga)
inilah hal-hal kesadaranku. nggak banyak sih, dan semuanya ujungnya sama, sakit perut dan diare! selama WFH, sering banget diare dan bertanya-tanya... kemarin w makan apaaaa sih kayaknya nggak pedes, oh iya minum chatime malam-malam. atau, ya, makan samyang... exposure yang semakin sedikit dengan makanan pedas (karena nggak jajan rame-rame) kayaknya membuat toleransi lidah dan perutku semakin cupu (but for good, karena i think my skin also thank me for that).
No comments:
Post a Comment