Thursday, 7 May 2020

#15haribercerita : Tentang menulis

Tahun lalu, waktu lagi sangat terdampak dengan quarter-life crisis, banyak orang yang menyarankan untuk aku menulis, journaling. Kalau bisa malah ditulis tangan sih sebenarnya. Karena, lebih ada feelnya mungkin?

Sejujurnya, aku pernah sangat rajin menulis. Bahkan, cita-citaku waktu kelas 6 SD dan SMP itu penulis, lho. Aku aktif di ekskul Mengarang pas SD, suka ngirim cerpen ke Bobo dan Kompas Anak (tapi nggak ada yang diterima lol), dan bikin komik. Aku sampai beli buku jurus-jurus ngegambar komik dkk. Komik pertamaku di buku SIDU, tiap minggu aku update terus kasih ke temenku buat dibaca.


SMP kemudian aku juga masih menulis. Lebih alay karena udah agak tahu cinta-cintaan (dengan sotoy). Aku punya diary yang kadang kayaknya dibaca sama Bapak atau Ibu (kzl). Kalau anak-anak pada umumnya eman-eman dengan berbagai koleksi Diary lucunya, aku enggak, semuanya aku tulisin. Dan karena memang punya bakat tidak teratur sejak dini, Diary ini sequencenya nggak jelas saking ada banyaknya buku yang aku punya. Jadi, nulisnya suka-suka mau di mana aja. 


Waktu SMA, sempet punya geng bermain, namanya KAWAII (yes, ini bawaan kena pelajaran bahasa Jepang semester 1 dan tau kalo Kawaii artinya CUTE) wkwk. Kami punya 1 buku SIDU bersama yang kami pegang sebagai Diary bersama, jadi bukunya muter dan kami nulis curhat-curhat kami di situ. Aku udah ga ingat pernah nulis apa, atau pun sekarang di mana ya itu buku berada. Waktu exchange di US pun, menulis di Diary itu kayak sebuah kewajiban. Juga rajin nulis di Bulletin Boardnya Friendster atau bikin Notes di Facebook. Intinya udah mengasah jiwa-jiwa netizen bacot gitu sih sejak pertama kali punya akun-akun media sosial.


Masuk kuliah, karena menulis menjadi sebuah kewajiban, menulis diary jadi agak nggak relevan. Oh, aku punya blog yang beberapa kali kuupdate sih, tapi menurutku, kayaknya seiring dengan banyaknya bacaan dan tulisan yang harus aku kerjakan, i dont find enjoyment in writing and reading anymore. Bawaannya malah mager dan capek.


Hingga saat ini. Udah jadi dosen dan peneliti. Udah nulis, sih. Report, esai, draft artikel jurnal, tulisan populer di media massa. 


Tapi, ya, gitu.


I feel like I lost something. My imagination dan sebuah passion saat menulis yang akan aku jabanin bermalam-malam nggak tidur untuk find the perfection. Hal yang aku temukan saat aku ngegambarin orang atau bikin karikatur (yang I am slowly also losing it).


So, this year challenge would be


Draft cerita fiksi hasil karyaku sendiri! 


Dipikir-pikir lagi, kangen ya, nulis sesuatu untuk satisfaction diri sendiri dan bukannya reviewer atau tanpa takut dijudge sama dosen dan peneliti lainnya. Something yang I am proud of karena itu hasil pikiranku dan imajinasiku sendiri, bukan karena, aku berhasil menyesuaikan dengan apa yang diminta oleh instansi.


Yuk trev, pelan-pelan beranjak dari beruang yang terlalu nyaman dengan comfort zone, dan take the baby step to come back to creative writing! 



No comments:

Post a Comment