Tuesday, 26 May 2020

#15haribercerita: Tentang Makan

Pada dasarnya, saya ini orang yang suka makan dan jajan. Apalagi kalo makannya rame-rame, bawaannya emang pingin beli makanan banyak terus dibagi-bagi dan makan sambil ngobrol-ngobrol. Salah satu hal yang saya rindukan di masa pandemi ini adalah kebiasaan makan bareng itu. Rasanya aneh harus makan sendirian tanpa ada suara orang lain. Makan sambil nonton drama pun nggak asik karena ujungnya pingin liat drama dan ngebiarin makanannya unattended. 

Kebiasaan makan yang saya sangat sukai ketika saya ikut program pertukaran pelajar. Di rumah saya itu, semua orang harus makan bareng dari sarapan- lunch (kalo lagi libur dan ga ada sekolah)- dan dinner. Di satu meja, dengan utensils yang disiapin dengan rapi oleh anak-anak. Hal yang nggak banyak saya dapatkan di keluarga saya, dan kayaknya susah sih diaplikasikan. Paling mentok pas makan malam. Menurut saya, makan bareng itu hangat dan membuat komunikasi menjadi lebih lancar. Bayangkan saja semeja bertemu paling tidak sehari tiga kali. Meskipun ketika dinner ditanyai, "How's your day?" pasti anak-anak banyakan mager dan jawabnya cuman, "great", paling enggak kelihatan gitu emosi yang dipunyai masing-masing anggota keluarga pada hari itu. Kelak, saya mau berusaha punya kebiasaan yang sama ketika sudah berkeluarga. 

Saya juga punya toleransi yang rendah terhadap orang-orang yang makannya "ngecap" (?), mendengar bunyi aduan antara bibir dan lidah itu, membuat bulu kuduk saya bergidik. Adik saya seringkali saya marahi di meja makan karena saya gak suka dengar suara ngecapnya itu, "makan yang bener!". Saya nggak tahu kebencian ini bermula dari mana, sehingga saya bener-bener punya ketidaksukaan yang tinggi. Kalau di tempat umum, saya suka nahan-nahan nggak komen dan mengalihkan pandangan dan menahan diri. Kalau orangnya agak dekat, saya tanya, "kamu kalau makan mesti ngecap po?". Kalau lebih dekat lagi dan nggak ada perasaan takut kehilangan--sebagaimana saudara, atau udah deket banget-banget, baru saya berani bilang, "isssshh jangan ngecappp kalo makaan" dan di kasus adik saya, langsung marahin hehehe. Ini agak ngeganggu juga karena kadang orang-orang jadi ngecap karena struktur gigi dan mulutnya juga, sih (yang aku baru tahu), bukan karena dia malas menutup mulut. Tapii tetep aja aku geliiii banget, maaf yaaa.

Tentang makanan, saya suka masak kalau saya tahu akan ada yang makan selain saya. Jadi lebih semangat dan ingin memberi yang terbaik. Kalau yang makan saya sendiri, rasanya mager. Pertama, karena energi dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan misalnya, GoFood dari restoran, dan kedua, kembali ke atas tadi. Saya sukanya rame-rame! Hahaha. Apakah kelak saya pingin punya keluarga yang besar? Entahlah. Rasa-rasanya kalau membayangkan biaya pendidikan dan segala investasi yang harus dipikirkan, kayaknya sebaiknya tidak, sih. Terkait masak sendiri, saya merasa nggak buruk-buruk amat di bagian ini. I mean, saya tahu ada artis yang terang-terangan bilang nggak berani nyalain kompor. Jadi, untuk berani membuat beberapa cake, masak masak sayur dan bahan protein hewani yang edible, rasanya cukup bisa lah saya masak. Asal tersedia bahan dan bumbu yang baik. Kalo harus ngefix-in sebuah menu dengan bahan terbatas kayaknya saya menyerah sih hehe.

Saya akhir-akhir ini sering terpapar informasi terkait conscious diet/eating, di mana ketika kita memilih bahan makanan, kita sadar secara penuh terkait pilihan itu dan juga tidak mengonsumsi hal-hal yang bertentangan dengan nilai moral maupun bertentangan dengan tubuh kita sendiri. Di mana, hal tsb juga mencakup beberapa aspek lain seperti: source dari makanan tersebut, bagaimana ia diolah, disajikan, dan bagaimana kita mengonsumsinya. Di awal-awal terdengar sangat complicated ya. Awalnya aku antipati karena anzay sumanzay ribet amat ya, bun. Tapi kemudian, kalau dipikir-pikir lagi, ya, namanya berkesadaran itu penting. Dan, levelnya, nggak perlu ekstrim. Sesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Jangan karena selebgram A ga konsumsi gluten kemudian kita men-demonise gluten, padahal kita ga alergi. Atau, parahnya, gara-gara punya sugesti gluten itu jahat, kita malah growing intolerance towards it--not naturally, tapi adanya efek placebo dari konsumsi bahan tersebut. Kan gawat, ya. Beberapa hal yang kemudian aku lebih "tengerin" terkait konsumsi sehar-hariku:
1) nggak kuat minum susu banyak-banyak (diare)
2) nggak kuat pedes (diare juga)
3) nggak boleh kebanyakan gula
4) yoghurt, meskipun fermentasi, tetep kasih efek yang sama kayak susu
5) ga kuat kopi kalau belum makan berat, atau kopi di sore-malam hari (=die)
6) jahe pagi-pagi malah bikin sendawa terus (kayaknya lambung juga sih ini)
7) rutin jinten hitam+ sangobion= no PMS
8) aku lebih banyak minum air putih kalau di kantor karena pakai botol dan sambil ngetik sambil minum (apalagi kalo botolnya pakai sedotan)
9) aku suka pakai sedotan tapi katanya baiknya dihindarin karena bikin kembung (nyedot udara juga)


inilah hal-hal kesadaranku. nggak banyak sih, dan semuanya ujungnya sama, sakit perut dan diare! selama WFH, sering banget diare dan bertanya-tanya... kemarin w makan apaaaa sih kayaknya nggak pedes, oh iya minum chatime malam-malam. atau, ya, makan samyang... exposure yang semakin sedikit dengan makanan pedas (karena nggak jajan rame-rame) kayaknya membuat toleransi lidah dan perutku semakin cupu (but for good, karena i think my skin also thank me for that). 



Thursday, 7 May 2020

#15haribercerita : Tentang menulis

Tahun lalu, waktu lagi sangat terdampak dengan quarter-life crisis, banyak orang yang menyarankan untuk aku menulis, journaling. Kalau bisa malah ditulis tangan sih sebenarnya. Karena, lebih ada feelnya mungkin?

Sejujurnya, aku pernah sangat rajin menulis. Bahkan, cita-citaku waktu kelas 6 SD dan SMP itu penulis, lho. Aku aktif di ekskul Mengarang pas SD, suka ngirim cerpen ke Bobo dan Kompas Anak (tapi nggak ada yang diterima lol), dan bikin komik. Aku sampai beli buku jurus-jurus ngegambar komik dkk. Komik pertamaku di buku SIDU, tiap minggu aku update terus kasih ke temenku buat dibaca.


SMP kemudian aku juga masih menulis. Lebih alay karena udah agak tahu cinta-cintaan (dengan sotoy). Aku punya diary yang kadang kayaknya dibaca sama Bapak atau Ibu (kzl). Kalau anak-anak pada umumnya eman-eman dengan berbagai koleksi Diary lucunya, aku enggak, semuanya aku tulisin. Dan karena memang punya bakat tidak teratur sejak dini, Diary ini sequencenya nggak jelas saking ada banyaknya buku yang aku punya. Jadi, nulisnya suka-suka mau di mana aja. 


Waktu SMA, sempet punya geng bermain, namanya KAWAII (yes, ini bawaan kena pelajaran bahasa Jepang semester 1 dan tau kalo Kawaii artinya CUTE) wkwk. Kami punya 1 buku SIDU bersama yang kami pegang sebagai Diary bersama, jadi bukunya muter dan kami nulis curhat-curhat kami di situ. Aku udah ga ingat pernah nulis apa, atau pun sekarang di mana ya itu buku berada. Waktu exchange di US pun, menulis di Diary itu kayak sebuah kewajiban. Juga rajin nulis di Bulletin Boardnya Friendster atau bikin Notes di Facebook. Intinya udah mengasah jiwa-jiwa netizen bacot gitu sih sejak pertama kali punya akun-akun media sosial.


Masuk kuliah, karena menulis menjadi sebuah kewajiban, menulis diary jadi agak nggak relevan. Oh, aku punya blog yang beberapa kali kuupdate sih, tapi menurutku, kayaknya seiring dengan banyaknya bacaan dan tulisan yang harus aku kerjakan, i dont find enjoyment in writing and reading anymore. Bawaannya malah mager dan capek.


Hingga saat ini. Udah jadi dosen dan peneliti. Udah nulis, sih. Report, esai, draft artikel jurnal, tulisan populer di media massa. 


Tapi, ya, gitu.


I feel like I lost something. My imagination dan sebuah passion saat menulis yang akan aku jabanin bermalam-malam nggak tidur untuk find the perfection. Hal yang aku temukan saat aku ngegambarin orang atau bikin karikatur (yang I am slowly also losing it).


So, this year challenge would be


Draft cerita fiksi hasil karyaku sendiri! 


Dipikir-pikir lagi, kangen ya, nulis sesuatu untuk satisfaction diri sendiri dan bukannya reviewer atau tanpa takut dijudge sama dosen dan peneliti lainnya. Something yang I am proud of karena itu hasil pikiranku dan imajinasiku sendiri, bukan karena, aku berhasil menyesuaikan dengan apa yang diminta oleh instansi.


Yuk trev, pelan-pelan beranjak dari beruang yang terlalu nyaman dengan comfort zone, dan take the baby step to come back to creative writing! 



Friday, 1 May 2020

tentang rasa

ada banyak jenis perasaan dan emosi

ada yang kita akui
ada juga yang coba kita hindari

dihindari, karena takut terlihat lemah
dihindari, karena mungkin trauma

merasa, atau memiliki emosi,
seharusnya tidak ada salah dan benarnya

kalau terus kita merasa, bahwa salah kita merasa sedih,
salah untuk jatuh cinta, misalnya,
bukankah berarti kita layaknya terikat dalam sebuah norma sosial?

tapi, perasaan yang kita punya,
apakah ada sanksinya?

sebutlah aku merasa jatuh cinta,

mungkin pada orang yang tidak tepat,
mungkin tidak berbalas,
mungkin juga hanya akan menambah daftar penyebab kesedihan,

tapi,
pada saat yang sama juga,
perasaan itu lah yang membuatmu lebih welas asih dengan sesama
perasaan itu yang membuatmu bisa tersenyum setiap paginya
merasa bahwa ada alasan untuk terus bangun pagi dan menyambut hari-hari

bahagianya mungkin hanya sementara
tapi, bukankah sejatinya hidup ini juga hanya sementara?

dari kesementaraan hidup ini,
mari kita rayakan bahagia yang sementara ini pula