“A single death is tragedy, but a millions death is a statistic” (Joseph
Stalin)
Kematian satu orang adalah sebuah tragedi, tetapi kematian jutaan orang
hanyalah sebuah data statistik
Beberapa waktu lalu, foto perawat muda asal Palestina, Razan Al-Najar,
banyak muncul dalam pemberitaan maupun lini masa berbagai platform sosial
media. Fakta bahwa tentara Israel melakukan penembakan terhadap Razan, seorang
perempuan tenaga medis sipil non-kombatan, memunculkan banyak kecaman dari
berbagai pihak. Pemakaman gadis berusia 21 tahun ini bahkan dihadiri oleh ribuan warga Palestina. Sekelompok badan hak asasi manusia dan kemanusiaan
sertaPBB turut melayangkan protes terhadap aksi tentara
Israel atas kematian Razan yang merupakan pekerja medis di wilayah konflik
tersebut.Razan hanyalah satu dari 120 warga Palestina lainnya yang
menjadi korban jiwa dari berbagai kasus penembakan yang dilakukan tentara
Israel di jalur Gaza sepanjang tahun 2018 saja. Padahal, konflik kemanusiaan di
Palestina telah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama. Bulan Juni 2018 ini
menandai 50 tahun pendudukan illegal Israel terhadap wilayah
Palestina dan 11 tahun blokade illegal atas jalur Gaza.
Sepanjang waktu tersebut pula Israel telah melakukan berbagai kejahatan atas
kemanusiaan terhadap warga Palestina. Dalam konflik tiga tahun terakhir di
jalur Gaza (2008/2009, 2012, dan 2014), terdapat setidaknya 2000 korban jiwa dari aksi tentara Israel. Akan
tetapi, mengapa kasus Razan menarik lebih banyak perhatian dibandingkan dengan
kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan Israel lainnya?
Sejauh manakah batas empati manusia terhadap manusia lainnya?
Menarik untuk melihat bagaimana persepsi manusia terhadap sebuah konflik
atau krisis kemanusiaan ternyata dapat dipengaruhi oleh jumlah korban yang
dipublikasikan oleh media. Sebuah penelitianyang
dilakukan oleh Paul Slovic menunjukkan bahwa emosi manusia
tidak didesain untuk memikirkan, terlebih, berempati dengan jutaan ataupun
milyaran individu lainnya. Hal ini diperkuat dengan studi lain yangdilakukan oleh Daryl Cameron dan Keith
Payne yang juga menunjukkan bahwa semakin besar jumlah korban,
maka semakin besar pula usaha seseorang untuk menekan perasaan simpatinya.
Ketika seseorang melihat jumlah korban yang semakin banyak, secara otomatis
otak akan berusaha menekan aspek emosional kita dan menghindari respons yang
terlalu berlebihan. Slovic menyebut fenomena ini sebagai “physic numbing”.
Sejalan dengan hal tersebut, Slovic juga menyebutkan adanya “singularity effect”,
dimana manusia cenderung memberikan nilai yang sangat tinggi terhadap satu jiwa
individu, namun tidak dengan jumlah yang lebih besar. Hal ini terjadi bahkan
ketika jumlah korban hanya bertambah menjadi 2 orang dari semula 1 orang saja.Publikasi foto Aylan Kurdi, bocah berumur tiga
tahun asal Syria yang tewas dan terdampar di tepi pantai Turki di tahun 2015
lalu menjadi salah satu contoh dari kasus yang diteliti oleh Slovic. Penelitian
Slovic menunjukkan bahwa hanya dengan satu foto Aylan Kurdi terbukti mampu
meningkatkan perhatian masyarakat dunia mengenai krisis kemanusiaan di Suriah.
Data yang diperoleh Slovic dan timnya melalui Google Trend analytics
menunjukkan bahwa di bulan September 2015, ketika foto Aylan pertama kali
dipublikasi, grafik angka pencarian terhadap kata kunci “Syria”, “Refugee”,
dan “Aylan” meningkat sangat pesat. Bersamaan dengan itu, Palang Merah Swedia,
salah satu organisasi yang turut mengatasi permasalahan pengungsi Suriah di
Eropa, mendapatkan peningkatan donasi yang sangat pesat di bulan yang sama.
Rata-rata donasi harian yang diterima meningkat lebih dari lima kali
lipat dari sebelumnya yakni dari 8000 USD menjadi 430.000 USD. Angka
yang cukup besar semenjak mulainya krisis kemanusiaan Suriah di tahun 2011.
Ekspos terhadap korban individual terbukti menghasilkan respons yang lebih
besar dibandingkan dengan pemberitaan korban kemanusiaan dengan jumlah yang
lebih besar. Hal ini merupakan aspek yang menarik dari kepribadian manusia,
dikarenakan secara rasional, apabila kita dapat berempati dengan 1 individu,
maka rasa empati kita akan bertambah seiring dengan jumlah korban yang ada.
Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?
Kebebalan Psikis, Ketidakefektifan- Semu, dan Efek Kepentingan
Berdasarkan hasil studi Slovic, terdapat setidaknya tiga hal yang
mempengaruhi ketidakmampuan perasaan manusia untuk merasakan empati dengan
statistik jumlah korban yang besar: Pertama, adanya fenomena “physic numbing”
atau “kebebalan psikis” yakni perasaan emosional yang kurang dapat terbangun
melalui data statistik berupa angka. Agaknya individu lebih mudah merasa
terhubung dengan kisah pribadi individu lainnya daripada dengan data statistik.
Emosi ini terbangun dengan membentuk perasaan “hal tersebut bisa saja terjadi
kepada saya”. Kedua, perasaan “ketidakefektifan-semu” atau “pseudo-inefficacy” yang
dimunculkan ketika mengetahui bahwa kita hanya dapat memberikan bantuan yang
kecil dibandingkan dengan besarnya krisis yang terjadi. Perasaan negatif dari
mengetahui “banyaknya orang lain yang tidak bisa kita bantu” mengalahkan fakta
bahwa kita telah setidaknya membantu sebagian dari korban tersebut. Hasilnya,
muncul perasaan ragu-ragu ketika akan memberikan respons ataupun bantuan
dikarenakan persepsi keterbatasan kemampuan tersebut. Dan ketiga, adanya
“prominence effect” atau sebuah “efek kepentingan”, dimana individu akan lebih
memilih untuk melakukan hal yang dianggap lebih penting dan memiliki efek yang
lebih nyata bagi dirinya. Opsi untuk melakukan intervensi kemanusiaan pada
krisis yang terjadi di negara lain, misalnya, bisa jadi akan membahayakan
kepentingan keamanan nasional. Sebagaimana halnya keputusan untuk merespon sebuah
krisis kemanusiaan yang besar, emosi individu dapat pula terpengaruhi dengan
perhitungan untung-rugi tersebut.
Menembus Batasan Empati
Perhatian yang besar atas kematian Razan dan relatif pengabaian terhadap
korban-korban lainnya bisa jadi disebabkan oleh bias emosi sebagaimana yang
terjadi pada kasus Aylan Kurdi. Fakta bahwa Razan merupakan tenaga medis yang
menjadikan kekerasan terhadapnya adalah sebuah pelanggaran atas hukum humaniter internasional semakin
menambah nilai perhatian yang diberikan oleh berbagai badan humaniter
internasional.Pemberitaan terhadap korban individu terbukti dapat menarik
perhatian yang lebih tinggi terhadap sebuah krisis kemanusiaan berskala besar
seperti Suriah dan Palestina. Hal yang sangat disayangkan mengingat krisis
kemanusiaan tersebut telah terjadi dalam kurun waktu yang lama, menyisakan
jumlah korban yang selayaknya mendapatkan perhatian sama besarnya, atau bahkan
lebih besar. Meskipun fakta tersebut cukup mengganggu, bukan berarti bahwa kita
tidak bisa mengubah hal tersebut. Dengan mengetahui ketiga faktor yang menjadi
penghalang bagi emosi manusia untuk memberikan empati terhadap sebuah krisis
dalam skala besar, diharapkan setidaknya dapat meningkatkan kesadaran kita
dalam memandang berbagai krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini. Tragedi
kemanusiaan terus terjadi dan memakan korban baik jiwa maupun materi setiap
harinya. Yaman, Suriah, Palestina, Rohingya, dan banyak lagi krisis
kemanusiaan yang bisa jadi terlewatkan dari terbatasnya kemampuan individu
untuk dapat memproses perasaan empatinya. Tentunya ke depan diharapkan bahwa
respons terhadap sebuah tragedi kemanusiaan yang masif tidak lagi harus dipicu
oleh sebuah kisah korban individual saja. Semoga.
No comments:
Post a Comment