Wednesday, 18 July 2018

Adakah batas empati terhadap tragedi kemanusiaan?


“A single death is tragedy, but a millions death is a statistic” (Joseph Stalin)
Kematian satu orang adalah sebuah tragedi, tetapi kematian jutaan orang hanyalah sebuah data statistik            

Beberapa waktu lalu, foto perawat muda asal Palestina, Razan Al-Najar, banyak muncul dalam pemberitaan maupun lini masa berbagai platform sosial media. Fakta bahwa tentara Israel melakukan penembakan terhadap Razan, seorang perempuan tenaga medis sipil non-kombatan, memunculkan banyak kecaman dari berbagai pihak. Pemakaman gadis berusia 21 tahun ini bahkan dihadiri oleh ribuan warga PalestinaSekelompok badan hak asasi manusia dan kemanusiaan sertaPBB turut melayangkan protes terhadap aksi tentara Israel atas kematian Razan yang merupakan pekerja medis di wilayah konflik tersebut.Razan hanyalah satu dari 120 warga Palestina lainnya yang menjadi korban jiwa dari berbagai kasus penembakan yang dilakukan tentara Israel di jalur Gaza sepanjang tahun 2018 saja. Padahal, konflik kemanusiaan di Palestina telah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama. Bulan Juni 2018 ini menandai 50 tahun pendudukan illegal Israel terhadap wilayah Palestina dan 11 tahun blokade illegal atas jalur Gaza. Sepanjang waktu tersebut pula Israel telah melakukan berbagai kejahatan atas kemanusiaan terhadap warga Palestina. Dalam konflik tiga tahun terakhir di jalur Gaza (2008/2009, 2012, dan 2014), terdapat setidaknya 2000 korban jiwa dari aksi tentara Israel. Akan tetapi, mengapa kasus Razan menarik lebih banyak perhatian dibandingkan dengan kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan Israel lainnya?

Sejauh manakah batas empati manusia terhadap manusia lainnya?
Menarik untuk melihat bagaimana persepsi manusia terhadap sebuah konflik atau krisis kemanusiaan ternyata dapat dipengaruhi oleh jumlah korban yang dipublikasikan oleh media. Sebuah penelitianyang dilakukan oleh Paul Slovic menunjukkan bahwa emosi manusia tidak didesain untuk memikirkan, terlebih, berempati dengan jutaan ataupun milyaran individu lainnya. Hal ini diperkuat dengan studi lain yangdilakukan oleh Daryl Cameron dan Keith Payne yang juga menunjukkan bahwa semakin besar jumlah korban, maka semakin besar pula usaha seseorang untuk menekan perasaan simpatinya. Ketika seseorang melihat jumlah korban yang semakin banyak, secara otomatis otak akan berusaha menekan aspek emosional kita dan menghindari respons yang terlalu berlebihan. Slovic menyebut fenomena ini sebagai “physic numbing”. Sejalan dengan hal tersebut, Slovic juga menyebutkan adanya “singularity effect”, dimana manusia cenderung memberikan nilai yang sangat tinggi terhadap satu jiwa individu, namun tidak dengan jumlah yang lebih besar. Hal ini terjadi bahkan ketika jumlah korban hanya bertambah menjadi 2 orang dari semula 1 orang saja.Publikasi foto Aylan Kurdi, bocah berumur tiga tahun asal Syria yang tewas dan terdampar di tepi pantai Turki di tahun 2015 lalu menjadi salah satu contoh dari kasus yang diteliti oleh Slovic. Penelitian Slovic menunjukkan bahwa hanya dengan satu foto Aylan Kurdi terbukti mampu meningkatkan perhatian masyarakat dunia mengenai krisis kemanusiaan di Suriah. Data yang diperoleh Slovic dan timnya melalui Google Trend analytics menunjukkan bahwa di bulan September 2015, ketika foto Aylan pertama kali dipublikasi, grafik angka pencarian terhadap kata kunci “Syria”, “Refugee”, dan “Aylan” meningkat sangat pesat. Bersamaan dengan itu, Palang Merah Swedia, salah satu organisasi yang turut mengatasi permasalahan pengungsi Suriah di Eropa, mendapatkan peningkatan donasi yang sangat pesat di bulan yang sama. Rata-rata donasi harian yang diterima meningkat lebih dari lima kali lipat  dari sebelumnya yakni dari 8000 USD menjadi 430.000 USD. Angka yang cukup besar semenjak mulainya krisis kemanusiaan Suriah di tahun 2011. Ekspos terhadap korban individual terbukti menghasilkan respons yang lebih besar dibandingkan dengan pemberitaan korban kemanusiaan dengan jumlah yang lebih besar. Hal ini merupakan aspek yang menarik dari kepribadian manusia, dikarenakan secara rasional, apabila kita dapat berempati dengan 1 individu, maka rasa empati kita akan bertambah seiring dengan jumlah korban yang ada. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Kebebalan Psikis, Ketidakefektifan- Semu, dan Efek Kepentingan
Berdasarkan hasil studi Slovic, terdapat setidaknya tiga hal yang mempengaruhi ketidakmampuan perasaan manusia untuk merasakan empati dengan statistik jumlah korban yang besar: Pertama, adanya fenomena “physic numbing” atau “kebebalan psikis” yakni perasaan emosional yang kurang dapat terbangun melalui data statistik berupa angka. Agaknya individu lebih mudah merasa terhubung dengan kisah pribadi individu lainnya daripada dengan data statistik. Emosi ini terbangun dengan membentuk perasaan “hal tersebut bisa saja terjadi kepada saya”. Kedua, perasaan “ketidakefektifan-semu” atau “pseudo-inefficacy yang dimunculkan ketika mengetahui bahwa kita hanya dapat memberikan bantuan yang kecil dibandingkan dengan besarnya krisis yang terjadi. Perasaan negatif dari mengetahui “banyaknya orang lain yang tidak bisa kita bantu” mengalahkan fakta bahwa kita telah setidaknya membantu sebagian dari korban tersebut. Hasilnya, muncul perasaan ragu-ragu ketika akan memberikan respons ataupun bantuan dikarenakan persepsi keterbatasan kemampuan tersebut. Dan ketiga, adanya “prominence effect” atau sebuah “efek kepentingan”, dimana individu akan lebih memilih untuk melakukan hal yang dianggap lebih penting dan memiliki efek yang lebih nyata bagi dirinya. Opsi untuk melakukan intervensi kemanusiaan pada krisis yang terjadi di negara lain, misalnya, bisa jadi akan membahayakan kepentingan keamanan nasional. Sebagaimana halnya keputusan untuk merespon sebuah krisis kemanusiaan yang besar, emosi individu dapat pula terpengaruhi dengan perhitungan untung-rugi tersebut.  

Menembus Batasan Empati
Perhatian yang besar atas kematian Razan dan relatif pengabaian terhadap korban-korban lainnya bisa jadi disebabkan oleh bias emosi sebagaimana yang terjadi pada kasus Aylan Kurdi. Fakta bahwa Razan merupakan tenaga medis yang menjadikan kekerasan terhadapnya adalah sebuah pelanggaran atas hukum humaniter internasional semakin menambah nilai perhatian yang diberikan oleh berbagai badan humaniter internasional.Pemberitaan terhadap korban individu terbukti dapat menarik perhatian yang lebih tinggi terhadap sebuah krisis kemanusiaan berskala besar seperti Suriah dan Palestina. Hal yang sangat disayangkan mengingat krisis kemanusiaan tersebut telah terjadi dalam kurun waktu yang lama, menyisakan jumlah korban yang selayaknya mendapatkan perhatian sama besarnya, atau bahkan lebih besar. Meskipun fakta tersebut cukup mengganggu, bukan berarti bahwa kita tidak bisa mengubah hal tersebut. Dengan mengetahui ketiga faktor yang menjadi penghalang bagi emosi manusia untuk memberikan empati terhadap sebuah krisis dalam skala besar, diharapkan setidaknya dapat meningkatkan kesadaran kita dalam memandang berbagai krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini. Tragedi kemanusiaan terus terjadi dan memakan korban baik jiwa maupun materi setiap harinya. Yaman, Suriah, Palestina, Rohingya, dan  banyak lagi krisis kemanusiaan yang bisa jadi terlewatkan dari terbatasnya kemampuan individu untuk dapat memproses perasaan empatinya. Tentunya ke depan diharapkan bahwa respons terhadap sebuah tragedi kemanusiaan yang masif tidak lagi harus dipicu oleh sebuah kisah korban individual saja. Semoga.



No comments:

Post a Comment