Friday, 13 April 2018

Belajar IELTS tanpa Les

Hai, teman-teman yang mungkin nyasar karena sedang akan mengambil tes IELTS! Aku mau bagi-bagi tips untuk sobat qismin (seperti layaknya diri sendiri) yang mau ngambil tes IELTS, tapi remuk-patah-hati-ini ketika melihat biaya tes tersebut, apalagi biaya lesnya yang.... umumnya lebih mahal dari biaya tesnya sendiri, iya nggak? (catatan- untuk les intensif ya, bukan kalau 1-2x datang saja)

Sangat sangat tidak bermaksud untuk meng-encourage teman-teman untuk nggak usah ambil les, karena kan setiap orang kemampuannya berbeda-beda ya, baik kemampuan kognitif maupun kemampuan materialnya. Kalau misalnya punya jatah uang yang bisa dialokasikan untuk les sih, aku sangat-sangat merekomendasikan untuk les! Kenapa? Ya, namanya juga les intensif, ada orang yang bantuin dan nemenin belajar (dan sudah ahli pada bidangnya!), insyaAllah hasilnya bisa lebih maksimal dibandingkan dengan meraba-raba dan proofread hasil jawaban diri sendiri. Ya kaaann...

Oiya, intro dikit ya, ini pengalaman aku ambil tes IELTS tahun 2015 di British Council Malang (udah lama juga, ya). Sayangnya aku nggak sempat mendokumentasikan hal apapun terkait tes itu, jadi ingatannya rada-rada kabur. Yang jelas, aku inget banget waktu itu bulan Ramadhan, jadi bener-bener cramming otak waktu puasa, tiada makan, tiada minum (dramatis gitu). Awalnya mau ikutan buka bareng temen-temen SMA habis tes, tapi hasil paling nyata dari tes IELTS sambil puasa adalah pulang dengan kepala panas dan perut laper nggak bisa mikir, jadi aku langsung cus ke rumah dan tidur sampai adzan Maghrib. Hhh perasaan kelaparan dan kepusingan itu sangat nyata dan masih keinget sampai sekarang loh. Tapi mungkin, berkah Ramadhan pula, alhamdulillah hasil IELTSnya bisa kepakai untuk daftar LPDP dan juga cukup memenuhi standar universitas tujuanku, University of Sydney. 

Tes IELTS sendiri, sebagaimana sebagian netizen sudah ketahui, terdiri dari 4 section: Listening, Reading, Writing (I&II), dan Speaking (I,II, & III). 
Nah, dari keempat hal yang terdapat dalam IELTS ini, menurutku, dua hal yang bisa kamu pol-in kalau belajar sendiri adalah: listening dan reading, karena keduanya memang rada pasif gitu kan. Ketika kamu belajar mendengar dan membaca, kamu bisa cek benar-tidaknya jawaban kamu dengan melihat kunci jawaban yang tersedia. Melakukan latihan untuk kedua hal ini pun cukup mudah, kamu bisa donwload berbagai jenis buku (ilegal) IELTS online (Maafkan aku, belum mampu beli aslinya), atau beli buku latihan IELTS (yang biasanya bonus CD Listening juga). Waktu itu aku dipinjamin si Tepanus punya mantannya yang dia LDR Jogja-Sydney, terus mungkin bisa jadi ikut kebawa aura-aura Sydney gitu kali, ya wkwkwk (ini penting banget ya diceritain gitu HAHAHA)

Nah, untuk dua hal lainnya, writing dan speaking adalah bagian dimana kalau kamu ikutan les privat ataupun kelas intensif, akan sangat-sangat membantu. Di bagian menulis, akan ada orang yang bisa mengecek tulisan kita, baik secara grammar maupun secara struktur tulisan. Sepertinya, tes IELTS (Akademik) juga secara langsung-gak-langsung, pasif agresif gitu.. mengenalkan para calon pelajar ini untuk menuliskan ide-ide atau buah pemikiran yang kita punya secara sistematis, dimulai dari introduction, issue 1, issue 2, sampai conclusion. Oiya, kalau kamu search "IELTS writing structure"  di Google akan ada banyak sekali situs ataupun blog yang share bagaimana cara menulis untuk tes IELTS, dos and donts gitu lah. Insya Allah nggak ada yang menyesatkan, kok. Oiya, selanjutnya, untuk speaking, jelas banget banget laah bahwa punya partner untuk berbicara akan sangat membantu. Memang nggak harus guru les, sih, tapi ya pasangan berbicara dan ngobrol tentang topik-topik yang sekiranya akan muncul. Karena, dari 3 section untuk speaking, di bagian terakhir kan ceritanya ada two-way discussion antara kamu dan interviewer, jadi yaa lebih enak kalau misalnya memang sudah ada orang yang merespons jawabanmu, dan memicu kamu untuk menjawab celetukan atau pertanyaannya beliau. 

Intinya, sih, buat sobat qismin yang ingin belajar IELTS tanpa les intensif, 
gunakan internet dengan cerdas! 

itu aja sih, udah..... hehehhehehehe *penonton kecewa* 
Tapi, serius, deh asal kalian cerdas dalam menggunakan kata kunci di mesin pencari Google, maka niscaya kalian akan nemu berbagai situs yang menjelaskan tetek bengek IELTS dari abcdefgh dst dst. Nggak semuanya dalam bahasa Inggris, banyak juga yang dalam bahasa Indonesia, semisal kalau takut salah paham dengan penjelasannya. Cari sebanyak mungkin latihan soal dan audio untuk reading dan listening. Jangan cuma dicari doang juga, sih.... praktikkan! Kalian bisa juga download contoh-contoh jawaban atau esai untuk writing dan belajar bagaimana struktur penulisan akademik yang baik. Untuk speaking, banyak juga yang membahas daftar pertanyaan yang biasanya diajukan, jadi ya paling nggak bisa buat siap-siap gitu. Aku juga suka banget cari di Youtube video-video orang yang ceritanya merepresentasikan peserta IELTS yang lagi speaking dengan hasil band sekian-sekian, waktu kemarin aku carinya di Youtube "IELTS Speaking band 7", atau ya terserah kamu kira-kira punya tujuan berapa hasilnya. Hint: Semakin fancy alias beragamnya kosa-kata atau vocab yang kamu pakai, memperbesar kemungkinan dapat skor nilai yang lebih tinggi juga. Jadi, banyakin perbendaharaan vocab kamu! 

oh iya, selain gunakan internet dengan cerdas kalian juga harus disiplin! alokasikan waktu yang cukup untuk belajar. serius deh, disiplin dan keteguhan hati ini sangat diuji kalau mau belajar sendirian, karena kan kita nggak ada yang mengoyak-oyak (apa sih bahasa Indonesianya?) buat belajar, nggak ada beban karena udah bayar les, jadi kadang bikin males. Jangan! Kemalasan itu akan membuatmu menyesal seumur hidup, nak! 

Aku menulis ini buat kasih semangat, buat temen-temen yang mungkin nggak punya budget untuk les privat, insyaAllah bisa kok! Asal emang niat, ada jalannya. Apalagi sekarang di Internet bertebaran berbagai macam informasi *mulai dari yang nggak penting blas sampe super-maha-penting*, kita beneran harus bersyukur bisa ambil pelajaran dari situ. Btw, selain manfaatin internet, kamu juga bisa  loh ambil mock-test IELTS, semacam tes IELTS pura-pura gitu, biasanya lembaga-lembaga les yang adain, dan dari hasilnya kamu bisa ngira-ngira juga kemampuanmu seberapa dan apa yang harus ditingkatkan dari situ. 

Hasil tes IELTSku jelas pol-nya di bagian pasif listening&reading wkwk, karena anaknya sok-sokan takut gitu minta bantuan orang (apa banget kaan) buat ngecekin hasil tulisan dan juga belajar ngobrol. Sehinggaaaa saran aku selanjutnya adalah, kalau nggak bisa bayar mahal untuk les IELTS, bertemanlah dengan orang yang bisa membantu kalian-- and it never hurts to ask for a help; kalau ditolak, yaudah cari orang lain hehehehe. Seriusan deh, ini hal yang aku rada skip kemarin, karena malu dan takut... padahal, ya udah lah, kalau memang orangnya punya waktu dan baik hati, insyaAllah akan memperlebar ladang pahala gitu kan *haiyaahh*. 

All in all, goodluck untuk semua teman-teman yang sedang mempersiapkan tes IELTSnya! Semoga diberikan hasil yang sesuai, jangan lupa cek ketentuan kampus tujuan kalian (apakah ada minimum score per-kategori, atau mereka menerima minimum overall score), dan jangan bersedih kalau belum berhasil di percobaan pertama! Eh gapapa sih, sedih, tapi ya jangan lama-lama aja gitu *aku paham kok sedih karena uang buat bayar IELTS kan mahal ya, tapi nda papa, it's OK... nanti akan ada gantinya yang lebih baik yaaa. Aaamiin* 


p.s. awalnya aku mau kasih pdf-pdf buku IELTS aku latihan, tapi menyadari bahwa itu sama aja memperluas dosa diri sendiri *malu sama yang bikin buku*, jadi kalian bisa googling sendiri aja yaa buku-buku latihan IELTSnya. kalau udah berhasil lolos dan kuliah di tempat bagus, jangan lupa bagikan ilmunya, jadi dosa download ilegal-nya rada berkurang *sepertinya sih begitu* wkwk. 


Tuesday, 10 April 2018

Keamanan Data Pribadi di Dunia Siber?

gambar by @trevidraws ya hehe

Sejak ramai terkuaknya kasus penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh sebuah konsultan politik bernama Cambridge Analytica, banyak di antara pengguna sosial media dan internet yang mulai resah dan gelisah dengan keamanan data pribadinya, termasuk saya juga tentunya. Siapa yang menyangka dari ikutan kuis “Jadi apakah kamu di tahun 2030”, bisa jadi memberikan sebuah persetujuan untuk akses terhadap data-data pribadimu dan teman-temanmu di laman sosial media itu. Melihat dampaknya yang cukup wow dalam beberapa gonjang-ganjing politik domestik di negara-negara seperti Inggris dalam kampanye Brexit dan Amerika Serikat dengan pemilu presidennya, membuat beberapa orang, termasuk saya sendiri, jadi parno dalam menggunakan internet dan sosial media. 

Disini saya mau mengajak kita semua untuk melihat akar masalahnya, yaitu data-data pribadi yang bisa jadi disalahgunakan oleh pemilik platform sosial media, ataupun pihak ketiga yang mampu meng-compromise keamanan data tersebut. Tapi, sebelumnya, sebanyak apa sih data pribadi kita yang bisa digali lewat internet dan sosial media?

1. Seberapa banyak sih informasi yang diketahui Facebook tentang kita?
Sebagai seorang mantan alay sejak tahun 2008, saya harus mengakui bahwa ada buaaaanyak data yang saya bagi melalui akun Facebook saya. Sejak tahun 2008 sampai sekarang, masih tersimpan rapi di dalam archive Facebook saya. Ingin tahu bagaimana cara mengunduh archive Facebook?
  • Klik Tab Setting atau Pengaturan di Profil Facebook kamu
  • Klik "Download a copy of your Facebook data" di bagian "General Account Setting"
  • Klik "Start my archive"
  • Archive siap didownload! Link download akan dikirimkan ke email terdaftar dan diberikan juga notifikasi untuk itu.
Hasilnya? Surprise, surprise! Bahkan saya punya rekaman chat dengan mas-mas entah siapa di tahun 2009 *mas, apa kabar? Ada juga komentar dukungan heboh untuk band emo yang kenapa-saya-dulu pernah-suka-ya di tahun yang sama, dan juga berbagai iklan-iklan belanja yang pernah saya klik dan kunjungi laman-nya. Wah, saya rasa Facebook adalah satu-satunya hal yang paling mengenali saya selain Ibu saya!

2. Hmm.. kalau Google gimana? Kan aku udah klik delete history setelah browsing aneh-aneh…
HAHAHA. Yakin gitu langsung ilang aja record historynya? Coba kamu cek link ini deh beb https://takeout.google.com/settings/takeout
Prosesnya cukup memakan waktu sih, tapi sungguh deh, setelah ini kamu akan semakin mikir lagi buat browsing aneh-aneh… eh, aneh-aneh gimana maksudnya?

3. Eh.. eh.. kalau pake mode incognitonya Google?
Mode incognito pada dasarnya tidak akan membuat kamu invisible dari Google sendiri, bahkan ketika kamu ada di mode tersebut, Google kan yang bilang “you’ve gone incognito” . Doi tau, beb.
Sudah mulai panik? Tenang, tenang, itu baru Facebook dan Google. Apa kamu pengguna Path? Instagram? Twitter? Snapchat? Foursquare?
Seberapa sering kamu menggunakan nama dan foto diri asli di platform-platform tersebut? Memberikan data tanggal ulang tahun supaya ada yang kasih ucapan selamat di hari H?
Kalau dirunut memang panjaaang sekali ya, daftar sosial media yang digunakan oleh kebanyakan remaja Indonesia seperti saya *ehem. Coba, bayangkan dan renungkan, sudah berapa banyak informasi pribadi yang kamu bagi begitu saja dengan orang-orang asing di luar sana. Udah panik lagi?

Tapi, kan, di Indonesia kayaknya nggak akan seheboh kasus Cambridge Analytica?
Yakin?
Saya tanya lagi deh,
Yakin?
Kalaupun tidak akan seheboh itu, tapi bayangkan deh apabila ada pihak ketiga yang mengetahui semua informasi tentang kamu dan menggunakannya untuk tindakan kriminal seperti penipuan (tau dong, modus penipuan ngaku teman untuk minta uang ini itu?)
Apabila kamu pernah memberikan nomor-nomor penting seperti pin ATM kamu atau nomor kartu dan CCV kartu kredit dalam sebuah history chat, yakin masih merasa aman?

Terus, aku kudu piye?

Berada di negara yang masyarakatnya notabene sangat candu terhadap sosial media, rasanya memang aneh untuk tidak berada di “lingkaran” yang sama dengan teman-teman kita di alam digital. Namun setidaknya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
1. Atur mode privasi sosial media kamu dengan baik.
Kalau tidak bisa untuk benar-benar keluar dari jejaring sosial media yang sudah ada, tidak bisa meninggalkan teman-teman sesama netizen, setidaknya kita bisa mengatur hal-hal apa yang kita akan tunjukkan kepada publik dan hal-hal apa yang hanya bisa diakses oleh kita atau teman-teman tertentu saja.
2. Bagikanlah hal yang seperlunya
Coba dipikir-pikir lagi, perlukah kita membagi daftar nama-nama lengkap mantan sejak SMP? Perlukah membagi informasi alamat lengkap rumah dan denah posisi kamar? Siapa saja yang bisa melihat informasi tersebut? Apa yang kira-kira orang lain bisa lakukan dengan informasi tersebut? Kalau kamu sudah yakin bahwa informasi yang kamu berikan akan membawa kepada hal-hal yang lebih baik daripada hal-hal buruk, silakan bagikan.
3. Perhatikan juga privasi orang lain ketika kamu membagikan suatu gambar atau informasi
Tidak semua orang ingin wajahnya terpampang nyata di laman Facebook atau Instagram kamu. Tidak semua orang ingin informasi tentang nama lengkapnya dipajang di caption gombal kamu. Oh, bicara ini jadi ingat nih, waktu iseng googling nama teman, kemudian yang muncul adalah postingan blog teman SMAnya yang menceritakan kelakuan “nakal” dia selama SMA. Orangnya sih, sekarang biasa saja, malah kayaknya sudah berubah jauh, tapi jejak digital itu bisa membuat orang lain atau bahkan calon pemberi kerja, atau calon mertua pikir-pikir ulang untuk memilih si teman ini. Ya kaan.
4. Menjaga keamanan akun sosial media pribadi dari kemungkinan akses oleh pihak ketiga
Penting! Penting! Selain menahan diri dari over-sharing di akun-akun sosial media, kamu juga harus banget menjaga keamanan dari password akun kamu sendiri. Kalau dilihat sebelumnya, dimana kita bisa mendownload berbagai data aktivitas akun kita di Facebook dan Google, bayangkan kalau seseorang lain yang punya niatan jahat berhasil mendapatkan password kita dan melakukan hal serupa *tolong jangan dijadikan inspirasi, ya!

Privasi di dunia siber saat ini sepertinya memang menjadi sebuah hal yang sangat langka, ya. Akan tetapi, kita bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dengan menggunakan internet dan sosial media dengan lebih bijak! Tentunya kita tidak ingin data-data pribadi kita disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan yang tidak baik, kan? Oleh karena itu, mari kita jadi netizen yang lebih cermat dan teliti dalam berselancar di dunia siber.


Tuesday, 3 April 2018

Curhat: Jerawatan

Buat temen-temen yang baru kenal aku di masa akhir kuliah S1 atau ketika aku mulai studi S2, mungkin udah nggak ngerasa aneh kalau lihat aku muncul dengan wajah yang geradakan, tidak rata warnanya, dan kalo kata Zaki, adek ngajiku, pointy-pointy :") 
Tapi, buat temen-temen SD/SMP/SMA/ yang pernah sekelebat kenal waktu awal-awal masuk kuliah S1, tiap lihat foto updatean Instagram atau Facebook, banyak banget yang kaget dan nanyain "Kenapa trev mukanya?", "Kok kamu bisa jerawatan gitu sih?", "Kamu udah nyoba pake xxxx?", "Kamu habis ngapain kok jadi gini?" dst dll dsb.

Sesungguhnya aku tahu kok bahwa respons itu sangat alamiah dan wajar dan ga ada maksud negatif untuk menyakiti, ya namanya juga orang kaget ya, nggumun gitu. Tapi entah kenapa, nih ya, menurut aku, dan mungkin beberapa temen lain yang juga dalam kondisi yang sama, pertanyaan semacam itu rada ngeganggu gitu.... kalo di aku sih, nambahin stress hahaha (emang dasar anaknya gampang kepikiran aja gitu). Kadang bikin sebel juga kalau ada temen update IG story yang nge-circle-in jerawatnya 1 bijik doang gitu, terus heboh "aaah gimana nih w jerawatan" *ingin berkata kasar*

If only you know, kalau kita nih juga banyakan nggak tahu kenapa tiba-tiba mukanya jadi seperti ini, di usia yang udah nggak remaja lagi pula (kayaknya aku baru mulai jerawatan ga kontrol gini umur 24, udah 7 tahun sejak sweet seventeen kan tuhhh... hhh). Jadi, kalau ditanyain kenapa tuh (dan gak cuma sekali dua kali ya), rasanya kayak... IHHH AKU JUGA GATAU, DIEM DEH. Gitu. *emosikk*

If only you know, kebanyakan dari orang-orang yang masih mengalami adult acne itu udah wira-wiri ke berbagai klinik, berbagai obat dicoba, berbagai dokter spesialis... nyobain berbagai cara tradisional minum jamu, ngeramu berbagai masker wajah dari bahan-bahan tumbuhan, diet golongan darah, you name it :")

Buat yang mau nanya ke aku, sekarang aku mau kasih link ke postingan blog ini aja HAHAHAHA *apa sih*. 

Jadi, kenapa Trev, kok bisa jerawatan kayak sekarang?
Hmm... jawabannya paling jujur sih masih nggak tahu, ya. HAHA. Dari dulu emang kulitnya udah oily, tapi biasanya cuma ada hormonal acne di masa-masa menjelang menstruasi doang, sampai kemudian pas KKN di Rote, dan setelahnya... tiba-tiba jerawatan parah gitu. Awalnya mikir nggak cocok airnya di sana, tapi kemudian... kenapa ini jerawat masih ada sampai pas udah pindah ke Jogja, Malang, bahkan Sydney... yaudah nggak jadi nyalahin air deh wkwkwk. Kalau tebakanku sendiri sih, sekarang, kalau kayaknya badannya mudah stress gitu, yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk bulir-bulir jerawat (iyuhhh sori ya), kenapa kok bisa mikir kayak gitu? Soalnya kalau liburan biasanya mukanya relatif lebih bersih daripada pas lagi week-week sekolah atau ada kerjaan wkwkwk. Jadi kayaknya aku alergi capek? *ALASANNYAA BUUU...* 

Buat teman-teman yang masalah kulitnya mentok di "kusam, nggak putih, atau kadang jerawatan 1 imt mungil pas mau menstruasi", HAI KAWAN BANYAK BERSYUKURLAH! Ya namanya manusia kan, kadang suka kurang bersyukur... aku tuh kadang suka mikir sih, kayaknya salah 1 barokah dari perjerawatan di mukaku adalah ketika orang-orang ngelihat aku mereka jadi bersyukur, "Alhamdulillah mukaku gak sampe kayak gitu, makasih Tuhan... " yaa at least lah ya, lagi nyari sisi positifnya aja gituhh.... 

Dan, buat temen-temen sesama pejuang jerawatan, kita harus semangat! I have been in the position where I totally don't want to see myself in the mirror dan sangat-sangat amat menghindari kamera, foto bareng, atau apapun... kalaupun foto rasanya susah mau senyum karena minder banget, orang-orang sebelah-sebelah kita mukanya mulussss banget rasanya syedihhh. Sekarang pun masih banget sedih kalau lihat muka mbak-mbak dan mas-mas (apalagi mas-mas nih, cuci muka aja jarang, tapi mulus banget, kan KESEL!) tapi terus kayak... ya, mungkin si jerawat ini sudah menjadi salah satu fitur dalam tubuhku yang harus keterima, seperti tahi lalat yang ada di tanganku, bekas knalpot di kaki kanan...Hmm ya yang bikin kesel adalah sakit dan ngilunya aja sih kalo pas lagi tumbuh dewasa gitu si jerawatnya... hhh sungguh, kesel. Kadang merasa ga enak juga sih mengganggu pemandangan orang gitu dengan mukaku wkwkwk maap yah, aku juga nggak mau mukaku jadi begini sih. 

Semangat ya teman-teman sesama pejuang buat nyari produk yang cocok dan meredakan butir-butir ini di kulit, semoga cepet ketemu sama yang cucok dan dapat mengontrol kemunculan mereka! Semoga kita juga jadi semakin mudah dicintai karena inner beauty kita gituu. Salah ga sih kalau aku mikir, karena misalnya mukaku nggak atraktif (((atraktif berasa atraksi buuu...))) jadi kalau beneran ada orang yang mau dekat sama kita atau menyayangi kita, maka dia tidak akan tersilaukan oleh hal-hal duniawi seperti kecantikan paras (cailahhh... paras) karena dia buktinya mau deket sama kita gitu. Alhamdulillah kan, semakin mudah untuk menyeleksi orang-orang di sekitar... hahaha (lagi mikir positif aja gitu, biar ga sedih-sedih amat)

Intinya, 
1. Be considerate, peka, sensitif, ketika kamu mau komenin suatu fitur fisik dari seseorang. Kalau emang niatnya mau nanya atau penasaran banget-banget, pikirin lagi, apakah jawaban dari dia itu penting untuk kamu ketahui? apakah dia akan nyaman menceritakan kondisi fisiknya ke kamu?
2. Kalau kamu mau nyaranin sesuatu ke seseorang dengan masalah kulit tertentu, hmm apa ya, kadang kudu hati-hati juga sih. Apalagi sampe komen jahat, kayak, "Kamu nggak pernah cuci muka yah? Rajin-rajin cuci muka aja sebelum tidur!" Itu sih jatuhnya rada nge-judge dan sotoy ya, buuu. Mungkin kalau dia udah nyaman cerita tentang kondisinya, kamu bisa nanya udah melakukan apa ajakah dia untuk menyembuhkan penyakit kulitnya (di sini konteksnya jerawat yah), terus kalo kamu mau ngasih solusi yang menurutmu bekerja di kamu, ya cerita ajah tapi nggak usah maksa. Kita semua tersusun dari berjuta-juta sel yang berbeda, apa yang bekerja baik di kamu, belum tentu akan bekerja dengan baik pula di orang lain. OJO MEKSO, CIN... 
3. Buat sesama pejuang, I feel you! Semangat! Kita bisa sembuh dan mengontrol kemunculan butir-butir ini kok, Insya Allah! Semoga ada berkah di balik semua perjuangan yang kita lakukan ini. Aaamiiin. 

Okee, sekian curhat dariku hari ini. Maaf yah postingannya kurang berfaedah, karena emang lagi stress juga tiba-tiba break out lagi. Cycle setannya emang gini sih, stress/ hormon ga jelas karena mau mens/ makan ga bener- jerawatan- makin stress karena jerawatan- makin jerawatan..... ya udahlah, nasib aing. Wkwkwk. 
Semoga besok-besok aku bisa mengepost hal yang lebih edukatif yah! Hahaha.
Sampai jumpaaa di posting berikutnya ;)